Sejarah Berdirinya Provinsi Gorontalo
Menurut sejarah, Jazirah
Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu
kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado.
Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam
di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan
penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan
perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow
(Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai
ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan
perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini
(bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota
Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga
sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada
tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke
Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian
dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari
Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak
antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan
letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan
serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada
wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan
Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo
dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang
Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo
berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan
Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan
kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah
Gorontalo ada lima pohala'a :
* Pohala'a Gorontalo
* Pohala'a Limboto
* Pohala'a Suwawa
* Pohala'a Boalemo
* Pohala'a Atinggola
Dengan
hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia
Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima
pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
* "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
* Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
* Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
* Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
* Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
* Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
* Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi
asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun
jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang
Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya
diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada
tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang
asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889
sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang
dikenal dengan istilah " Rechtatreeks Bestur ". Pada tahun 1911 terjadi
lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi
atas tiga Onder Afdeling yaitu :
* Onder Afdeling Kwandang
* Onder Afdeling Boalemo
* Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
* Distrik Kwandang
* Distrik Limboto
* Distrik Bone
* Distrik Gorontalo
* Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
* Afdeling Gorontalo
* Afdeling Boalemo
* Afdeling Buol
Sebelum
kemerdekaan Republik , rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani
Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama
kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo
berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi
tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi
bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani
Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis
kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Gorontalo " yaitu 23 Januari 1942
dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya.
Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum
nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan
menjadi bagian dari Indonesia
Selain itu pada saat pergolakan PRRI
Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya
berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan
semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah
didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia
Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
Budaya Daerah Gorontalo
Budaya
dalam suatu masyarakat etnis tertentu merupakan akal budi, pikiran
manusia, cipta karsa, dan hasil karya yang diciptakan oleh kelompok
masyarakat etnis tersebut. Dengan adanya budaya, masyarakat dapat
menetukan hukum-hukum yang berlaku di suatu kelompok yang merupakan
nilai moral suatu entnis tertentu yang akhirnya menjadi
kebiasaan-kebiasaan entis atau suku tertentu, termasuk juga budaya adat
istiadat daerah Gorontalo.
Gorontalo adalah ibu kota dari sebuah
provinsi di bagian utara Sulawesi dengan nama yang sama, Provinsi
Gorontalo. Ini adalah sebuah kota yang mewarisi keindahan budaya nenek
moyang yang begitu mempesona.
Namun membahas tentang budaya atau
kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat daerah Gorontalo saat ini tentu
telah ada banyak perubahan dan pergeseran mengikuti perkembangan jaman,
dibandingkan pada jaman dahulu dimana masing-masing individu masih
mempertahankan nilai-nilai leluhur yang berlaku didalam masyarakat.
Namun demikian saat ini masih ada kebiasaan-kebiasaan hidup dalam
masyarakat yang terus dipelihara dan masih berlaku dalam kehidupan
sehari-hari, termasuk tentang adat perkawinan dan kesenian derah
Gorontalo.
Sistem kekerabatan masyarakat gorontalo yang beraneka
ragan profesi dan tingkat sosial tidak menjadi penghalang untuk tetap
hidup dalam suasana kekeluargaan. Dan itu menjadi salah satu hal utama
mengapa masyarakat gorontalo selalu hidup rukun dan tidak pernah terjadi
bentrok atau konflik yang berskala besar. Sistem kemasyarakatan yang
terus terpelihara dan berjalan dengan baik hingga saat ini adalah hidup
bergotong-royong dan menyelesaikan masalah atau persoalan secara
bersama-sama, musyawarah dan mufakat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyususnan makalah ini
secara umum mengenai masalah “Kebudayaan Gorontalo”. Untuk memberikan
makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam penyususnan
makalah ini masalahnya dibatasi pada :
1.2.1 Bagaimana tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo ?
1.2.2 Apa saja kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo ?
1.2.3 Bagaimana keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Pada
dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dalam penyususnan makalah
ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi.
Adapun tujuan khusus dari penyususnan makalah ini adalah :
1.3.1 Ingin mengetahui tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo
1.3.2 Ingin mengetahui kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo
1.3.3 Ingin mengetahui keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat
yang akan diperoleh dari penulisan makalah ini yaitu kita semua dapat
memahami dan mengamalkan serta dapat mempertahankan dan melestarikan
adat istiadat budaya daerah Gorontalo agar tidak terkikis oleh jaman dan
tidak terpengaruh kebudayaan masyarakat lain serta tidak terpengaruh
pula oleh budaya kebarat-baratan atau westerisasi.
1.5 Metode Penulisan
Dalam
proses penyususnan makalah ini menggunakan metode heuristic. Metode
heuristic yaitu proses pencarian dan pengumpulan sumber-sumber dalam
melakukan kegiatan penelitian. Metode ini dipilih karena pada hakekatnya
sesuai dengan kegiatan dan penulisan teknik pendekatan dalam proses
penyusunannya.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yang selanjutnya dijabarkan sebagai berikut:
Bagian
kesatu adalah pendahulua. Dalam bagian ini penyusun memaparkan beberapa
pokok permasalahan awal yang berhubungan erat dengan permasalahan
utama. Pada bagian pendahuluan ini dipaparkan tentang latar belakang
masalah batasan, dan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, manfaat
penulisan makalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bagian
kedua yaitu pembahasan. Pada bagian ini merupakan bagian utama yang
hendak dikaji dalam proses penyusunan makalah. Penulis berusaha
mendeskripsikan berbagai temuan yang berhasil ditemukan dari hasil
pencarian sumber / bahan.
Bagian ketiga yaitu kesimpilan dan saran.
Pada kesempatan ini Penulis berusaha mengemukakan terhadap semua
permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh penulis dalam perumusan
masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengantar
Upacara
perkawinan adat gotontalo berlangsung di dua tempat yaitu di tempat
mempelai pria dan wanita, masing masing keluarga mempelai mengadakan
pesta dirumah masing-masing. Dalam pesta tersebut selalu berlangsung
meriah hingga berhari hari lamanya.
Beberapa hari sebelum pesta
dilangsungkan semua keluarga dan kerabat telah datang berkumpul untuk
membantu pelaksanaan pesta tersebut, baik ibu-ibu maupun bapak bapak
selalu datang beramai- ramai.
Dalam pesta itu mempelai pria dan
wanita menggunakan pakaian adat Bili’u dengan tempat pelaminan yang juga
dihias menggunakan adat Gorontalo. Pesta yang berlangsung biasanya 3
hari itu dengan masing masing mempunyai sebutan setiap hari yang
berbeda.
Pernikahan Adat Gorontalo ini perlu di lestarikan, karena
mengandung nilai–nilai budaya yang tinggi. Adat Gorontalo ini semakin
hari semakin terkontaminasi dengan perubahan zaman. Terlihat dimana–mana
pernikahan di Gorontalo tanpa melewati lagi prosesi adat gorontalo. Hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, banyak pemuda zaman
sekarang yang enggan mempelajari adat pernikahan gorontalo. Sehingga
warisan leluhur ini semakin terlupakan, karena tidak adanya regenerasi
penerus Adati lo Hulondhalo.
Pernikahan Adat Gorontalo memiliki ciri
khas tersendiri. Karena penduduk Provinsi Gorontalo memiliki penduduk
yang hampir seluruhnya memeluk agama Islam, sudah tentu adat istiadatnya
sangat menjunjung tinggi kaidah-kaidah Islam. Untuk itu ada semboyan
yang selalu dipegang oleh masyarakat Gorontalo yaitu, “Adati hula hula
Sareati, Sareati hula hula to Kitabullah” yang artinya, Adat Bersendikan
Syara, Syara Bersendikan Kitabullah. Pengaruh Islam menjadi hukum tidak
tertulis di Gorontalo sehingga mengatur segala kehidupan masyarakatnya
dengan bersendikan Islam. Termasuk adat pernikahan di Gorontalo yang
sangat bernuansa Islami. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut Upacara
adat yang sesuai tahapan atau Lenggota Lo Nikah
2.2 Tahapan Upacara Pernikahan Adat Gorontalo
Berikut
akan diuraiakan tahapan pernikahan adat gorontalo sesuai dengan
Lenggota Lo Nikah atau tata urutan adat pernikahan daerah Gorontalo.
2.2.1 Mopoloduwo Rahasia
Mopoloduwo
rahasia yaitu dimana orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua
sang wanita untuk memperoleh restu pernikahan anak mereka. Apabila
keduanya menyetujui, maka ditentukan waktu untuk melangsungkan
peminangan atau Tolobalango.
2.2.2 Tolobalango
Tolobalango adalah
peminangan secara resmi yang dihadiri oleh pemangku adat Pembesar Negeri
dan keluarga melalui juru bicara pihak keluarga pria atau Lundthu
Dulango Layio dan juru bicara utusan keluarga wanita atau Lundthu
Dulango Walato, Penyampaian maksud peminangan dilantunkan melalui
pantun-pantun yang indah. Dalam Peminangan Adat Gorontalo tidak
menyebutkan biaya pernikahan (Tonelo) oleh pihak utusan keluarga calon
pengantin pria, namun yang terpenting mengungkapkan Mahar atau Maharu
dan penyampaian acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.
2.2.3 Depito Dutu
Pada
waktu yang telah disepakati dalam acara Tolobalango maka prosesi
selanjutnya adalah mengantar harta atau antar mahar, didaerah gorontalo
disebut Depito Dutu yang terdiri dari 1 paket mahar, sebuah paket
lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, ditambah
seperangkat busana pengantin wanita, serta bermacam buah-buahan dan
bumbu dapur atau dilonggato.
Semua mahar ini dimuat dalam sebuah
kendaraan yang didekorasi menyerupai perahu yang disebut Kola–Kola.
Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah Yiladiya (kediaman/ rumah
raja) calon pengantin pria menuju rumah Yiladiya pengantin wanita
diringi dengan gendering adat dan kelompok Tinilo diiringi tabuhan
rebana melantunkan lagu tradisional Gorontalo yang sudah turun temurun,
yang berisi sanjungan, himbauan dan doa keselamatan dalam hidup berumah
tangga dunia dan akhirat.
2.2.4 Mopotilandahu
Pada malam sehari
sebelum Akad Nikah digelar serangkaian acara malam pertunangan atau
Mopotilandahu. Acara ini diawali dengan Khatam Qur’an, proses in
bermakna bahwa calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan
mengajinya dengan membaca ‘Wadhuha’ sampai Surat Lahab. Dilanjutkan
dengan Molapi Saronde yaitu tarian yang dibawakan oleh calon mempelai
pria dan ayah atau wali laki-laki. Tarian ini menggunakan sehelai
selendang. Ayah dan calon mempelai pria secara bergantian menarikannya,
sedangkan sang calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau
dari kamar.
Bagi calon mempelai pria ini merupakan sarana menengok
atau mengintip calon istrinya, istilah daerah Gorontalo di sebut Molile
Huali. Dengan tarian ini calon mempelai pria mecuri-curi pandang untuk
melihat calonnya. Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana
diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa
Arab yang juga merupakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.
Lalu
sang calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian
tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan
keberanian dan keyakinan menghadapi badai yang akan terjadi kelak bila
berumah tangga. Usai menarikan Tarian Tidi, calon mempelai wanita duduk
kembali ke pelaminan dan calon mempelai pria dan rombongan pemangku adat
beserta keluarga kembali ke rumahnya.
2.2.5 Tari Saronde
TARI
Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tarian
ini dilakukan di halaman calon mempelai wanita. Tentu penarinya adalah
calon mempelai laki-laki bersama orang tua atau walinya. Ini adalah cara
orang Gorontalo menjenguk atau mengintip calon pasangan hidupnya.
Dalam
bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang berarti
menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian prosesi
adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama ayah
atau wali. Mereka menari dengan selendang.
Sementara calon mempelai
wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan pujaan hatinya dari
dalam. Menampakkan sedikit dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa
ia mendapat perhatian. Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri
pandang ke arah calon mempelai wanita.
Tari Saronde dipengaruhi
secara kuat oleh agama Islam. Tarian ini dimulai dengan pemukulan
rebana, alat musik pukul berbentuk bundar. Lirik lagu adalah syair-syair
pujian terhadap Tuhan dan doa memohon keselamatan dalam bahasa Arab.
2.2.6 Akad Nikah
Keesokan
harinya Pemangku Adat melaksanakan Akad Nikah, sebagai acara puncak
dimana kedua mempelai akan disatukan dalan ikatan pernikahan yang sah
menurut Syariat Islam. Dengan cara setengah berjongkok mempelai pria dan
penghulu mengikrarkan Ijab Kabul dan mas kawin yang telah disepakati
kedua belah pihak keluarga. Acara ini selanjutnya ditutup dengan doa
sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan ini.
2.2.7 Pakaian Adat Gorontalo
Gorontalo
memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan,
khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang
lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut
Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas
tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.
2.2.8 Nuansa Warna Bagi Masyarakat Gorontalo
Dalam
adat istiadat gorontalo , setiap warna memiliki makna atau lambang
tertentu, karena itu dalam upacara pernikahan masyarakat gorontalo hanya
menggunakan empat warna utama , yaitu merah ,hijau , kuning emas , dan
ungu. Warna merah dalam masyarakat gorontalo bermakna keberanian dan
tanggung jawab , hijau bermakna Kesuburan, kesehjateraan , kedamaian dan
kerukunan, kuning emas bermakna kemulian, kesetiaan ,kesabaran dan
kejujuran sedangkan warna ungu bermakna keanggunan dan kewibawaan.
Pada
umumnya masyarakat Gorontalo enggan memakai pakai warna coklat karena
coklat melambangkan tanah , karena itu bila mereka ingin memakai pakaian
warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna
keteguhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa , warna putih bermakna kesucian
dan kedudukan , karena itu masyarakat gorontalo lebih suka mengenakkan
warna putih bila pergi ke tempat perkebungan atau kedukaan atau tempat
ibadah (masjid), biru muda sering digunakan pada saat peringatan 40 hari
duka,sedangkan biru tua digunakan pada peringatan 100 hari duka.
Dalam
adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H dilaksanakan dutu, dimana
kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan
buah-buahan , seperti jeruk , nangka ,nenas , tebu , setiap buah yang
dibawah juga punya makna tersendiri misalnya buah jeruk berkmakna bahwa
pengantin harus merendahkan diri, duri jeruk bermkana bahwa pengantin
harus menjaga diri dan rasanya yang manis bermakna bahwa pengantin harus
menjaga tata krama atau sifat manis yang disukai orang .nenas durinya
juga bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri dan begitu juga rasanya
yang manis.nangka dalam bahasa gorontalo langge loo olooto , yang
berbau harum dan berwarna kuning emas yang bermakna pengantin harus
mempunyai sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning
bermakna pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam
pendirian.
2.3 Kesenian Daerah
Gorontalo sebagai salah satu suku
yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik
tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.
2.3.1 Tarian
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
2.3.2 Lagu-lagu daerah Gorontalo
Lagu-lagu
daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah
Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang),
Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo
Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
2.3.3 Rumah Adat
Seperti
halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya
sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat
di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto.
Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain,
yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan
Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat
bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan
rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah
Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat
istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja
istana bermain sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang
lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan
tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan
yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat
ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para
pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu
Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum
Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
2.3.4 Bahasa Daerah
Orang
Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek,
dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang
paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan yang
berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu.
Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku
taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara
laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang
mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari
langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan
pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang
kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian
berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
2.3.5 Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo
ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi
hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara tujuh
bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama
menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan kecil
yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar
menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut
yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai
jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan
tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan
kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.
2.3.6 A q i q a h
Upacara
aqiqah biasanya dilaksanakan 1 bulan atau 40 hari usia anak yang baru
dilahirkan, namun ada sebagian masyarakat yang melaksanakan aqiqah lebih
awal bahkan ada yang lebih dari 40 hari bergantung kepada kemampuan
orang tua si anak.
Upacara aqiqah untuk suku Gorontalo tentu berbeda dengan yang dilaksanakan pada umumnya.
Pada
jaman dulu para orang tua melaksanakan upacara aqiqah itu pada 7 hari
setelah anak dilahirkan, yang disertai dengan upacara naik ayunan atau
yang disebut buye buye. Pada upacara ini sekaligus dilaksanakan sunat
bagi anak perempuan.
2.3.7 Khitanan dan Beat
Meskipun kemajuan
teknologi telah merambah ke suluruh pelosok Gorontalo, namun adat
istiadat yang telah ada sejak jaman nenek moyang tetap terpelihara
dengan baik, bebagai upacara adat masih tetap dilaksanakan, misalnya
upacara Khitanan bagi anak laki-laki dan Beat bagi anak perempuan. Dalam
upacara ini masih ada sebagaian masyarakat yang menggunakan alat
tradisional untuk mengkhitan anak laki-laki. Namun seiring dengan
kemajuan teknologi dan mengurangi resiko yang dapat berakibat fatal maka
saat ini telah terjadi pergeseran dengan menggunakan alat yang lebih
modern dengan menggunakan tenaga dokter.
Khitanan
Khusus upacara Beat untuk anak perempuan yang telah aqil baligh,adat tersebut masih tetap dilakukan.
2.3.8 Sapaan Atau Toli
Sapaan
atau toli atau nama panggilan bagi seseorang adalah suatu kebudayaan
masyarakat gorontalo. Tata krama ini sudah ada berabad-abad lamanya .
menurut “wulito” atau cerita leluhur kebudayaan ini berkembang menjadi
“pulangga “ atau gelar kepada raja jogugu,marsaoleh,dan para pejabat
kerajaan / negri yang dinobatkan atau dinilai berilomato atau berkarya
dalam negeri bahkan apabila wafatpun raja dan pejabat-pejabat masih di
anugrahi gelar yang disebut gara’I yang juga diberikan sesuai karyanya
semasa hidupnya .
Sapaan bermakna sebagai suatu penghormatan bagi
seseorang ,selain dari pada itu sapaan atau toli bisa memper erat tali
persaudaraan atau tali kekeluargaan dengan sapaan yang manis seseorang
merasa dihargai sehingga timbul ‘ sense of belonging‘ merasa bagian
keluarga atau lingkungannya.
Nabi Muhammad SAW menyapa istri-istirnya
dengan nama pangilan yang manis dan halus .beliau menyapa aisyahra
‘humairah ‘ artinya si pipi yang merah , yaitu sapaan kesayangan buat
istri yang cantik.
Pada zaman dahulu dalam lingkungan
kerajaan-kerajaan ,sapaan-sapaan terjaga dengan sangat baik dalam
lingkungan ini hamper tidak terdengar panggilan nama asli/kecil
seseorang . menyapa raja dan pejabat-pejabat Ti Olangia , Ti Jogugu ,Ti
Wulea ,atau sapaan ti Eyanggu . sapaan untuk ratu , permaisuri atau
istri-istri pejabat Ti Mbui , Ti Boki, Putra-Putri dan cucu Bantha , Te
tapulu ,Te Putiri , Te Uti , Ti Pii dan sebagainya. sebaliknya keluarga
dan para putra-putri pegawai kerajaan dengan nama jabatan masing-masing
sampai pangkat yang paling rendah sekalipun tak menyebut nama kecil.
2.3.9 Tumbilotohe
Tumbilotohe
yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti
pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau
malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan
suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga
Gorontalo. Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari
selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul
Fitri.
Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak
menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu
merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai
manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan
diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.
Menurut sejarah kegiatan
Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh
dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar
kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring
dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan
dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak
tanah. Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah,
Tumbilotohe mengalami pergeseran.
Hampir sebagian warga mengganti
penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi,
sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai
lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau
bambu.
Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak
terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam
yang diterangi cahaya lampu-lampu bot Kota Gorontalo berubah semarak
karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi
juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong
petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu
botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas
yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu
dibentuk gambar masjid, kitab suci Al ol di depan rumah- rumah penduduk
tampak mempesona
Tumbilotohe menjadi semacam magnet bagi warga
pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar.
Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe.
Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan
Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita
berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang
memanjakan ma Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon
pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah,
kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu
gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu.
Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di
atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang
kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati
menyambut Idul Fitri.
2.3.10 Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Bunggo
terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas
paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil
yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api
hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan, tapi dalam bermain permainan ini
pemain harus berhati-hati karena dapat membuat pemain kebakaran alis
dan bulu mata.
2.3.11 Walima
Walima dalam bahasa Arab yang artinya
perayaan oleh masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang
berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada
setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga
diisi dengan bahan makanan pokok hasil kebun, ternak dll yang disiapkan
apa adanya.
Bagi masyarakat, Walima adalah hasil karya seni tinggi
yang dipersiapkan berbulan-bulan, memerlukan kesabaran yang tinggi untuk
mengerjakannya serta membutuhkan biaya yang lumayan besar.
Bagian-bagian dalam Walima:
a. Tolangga
Bamboo
Rotan
Kayu
Tolangga
terbuat dari kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun-tahun,
disimpan oleh masyarakat untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.
b. Kertas Warna
Bahan kertas warna digunakan untuk menghiasi bambu atau rotan pada Tolangga.
c. Bendera
Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah.
Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan di setiap sisi pada tengah walima.
Bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.
d. Kolombengi
Terbuat dari tepung, gula & telur, kue ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima.
e. Tusuk Kue
Terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran tolangga.
f.. Plastik
Plastik bening biasa untuk melindungi kue kolombengi setelah ditusuk.
g. Lilingo
Terbuat
dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya
adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut –
asap, kue basah, dll.
h. Makanan
Nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar & pisang.
2.3.12 Tunuhio
Dalam
bahasa Indonesia tunuhio adalah yang diikutkan atau bersamaan ini
adalah sejumlah uang sesuai kemampuan pemilik walima, jumlahnya biasanya
mengikuti ukuran besar kecilnya walima tetapi juga ini tidak harus
mengikuti ukuran walima, uang ini diserahkan pemilik walima kepada
panitia pada saat walima tiba di masjid, jumlah uang (Tunuhi) pada saat
maulid di Bongo bila ditotal bisa puluhan juta dan dibagikan kepada
pezikir yang datang dari luar daerah untuk mengganti transportasai dll.
2.3.13 Dikili
Dikili
dalam bahasa Gorontalo biasanya dikenal pada saat maulid, dalam bahasa
Indonesia lebih kurang artinya adalah Zikir, dalam peringatan maulid
Nabi para pezikir datang hampir mewakili wilayah Gorontalo jumlahnya
bisa menjadi 500 orang, biasanya masyarakat Gorontalo yang berdomisili
di wilayah itu dan hobi dengan Dikili. Dikili ini dilagukan dalam irama
yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah
sholat Isya dan berakhir sebelum sholat zuhur atau lebih kurang 15 jam.
Irama zikir yang khas ini membuat orang terkagum-kagum dan marasakan
akan kejadian maulid Nabi.
2.4 Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
Dewasa
ini kita telah menghadapi masa globalisasi yang hubungan manusianya
tiada batas antar satu benua dengan banua lain. Keberadaan budaya
Gorontalo dimasa sekarang ini sudah mengalami banyak perubahan yang
sangat signifikan misalnya saja dalam hal upacara adat perkawinan. Dalam
upacara adat perkawinan adat Gorontalo dimasa sekarang ini banyak
sesi-sesi adat yang dilewati misalnya saja dalam upacara malam sebelum
diadakannya akad pernikahan, banyak anak muda sekarang yang tidak lagi
menggunakan tarian-tarian untuk memikat hati mempelai wanita karena
diakibatkan bebrapa faktor diantaranya sebagai berikut:
· Kurangnya pengetahuan akan adat budaya daerah Gorontalo
· Kurangnya pengetahuan akan tarian adat
· Kurangnya pengetahuan pembelajaran tentang adat budaya gorontalo
· Pergaulan kaum muda mudi yang sudah tergerus oleh jaman atau berprilaku hidup modern.
Faktor-faktor tersebut diatas yang membuat memudarnya kebudayaan Gorontalo.
Oleh
karena itu kita kaum muda harus bisa mempertahankan budaya Gorontalo
agar tetap lestari, karena budaya itulah yang menjadi warisan leluhur
nenek moyang suku Gorontalo.
Kota
Gorontalo dan wilayah sekitarnya dihuni oleh beragam suku, yaitu Suku
Gorontalo, Suku Bugis, Suku Polahi, Suku Jawa, Suku Makassar, Suku Bali,
Suku Minahasa, dan Tionghoa. Suku asli Gorontalo memiliki warisan
kebudayaan. Bebeapa di antaranya adalah rumah adat yang berarsitektur
indah. Setiap tahun, beragam suku di Gorontalo menampilkan warna-warni
kebudayaan mereka dalam Festival Otanaha.
Kebudayaan asli Gorontalo
sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam. Orang Gorontalo mengawinkan
unsur adat dan agama secara cantik. Lihatlah tradisi tumbilotohe, yaitu
tradisi membuat Kota Gorontalo gemerlap dengan lentera setiap malam
lebaran. Dalam pesta perkawinan, masyarakat Gorontalo menyanyi dan
menari dengan musik rebana dan syair doa.
Kamis, 30 Januari 2014
Sejarah Berdirinya Provinsi Gorontalo
Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
* Pohala'a Gorontalo
* Pohala'a Limboto
* Pohala'a Suwawa
* Pohala'a Boalemo
* Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
* "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
* Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
* Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
* Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
* Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
* Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
* Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah " Rechtatreeks Bestur ". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
* Onder Afdeling Kwandang
* Onder Afdeling Boalemo
* Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
* Distrik Kwandang
* Distrik Limboto
* Distrik Bone
* Distrik Gorontalo
* Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
* Afdeling Gorontalo
* Afdeling Boalemo
* Afdeling Buol
Sebelum kemerdekaan Republik , rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Gorontalo " yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
Budaya Daerah Gorontalo
Budaya dalam suatu masyarakat etnis tertentu merupakan akal budi, pikiran manusia, cipta karsa, dan hasil karya yang diciptakan oleh kelompok masyarakat etnis tersebut. Dengan adanya budaya, masyarakat dapat menetukan hukum-hukum yang berlaku di suatu kelompok yang merupakan nilai moral suatu entnis tertentu yang akhirnya menjadi kebiasaan-kebiasaan entis atau suku tertentu, termasuk juga budaya adat istiadat daerah Gorontalo.
Gorontalo adalah ibu kota dari sebuah provinsi di bagian utara Sulawesi dengan nama yang sama, Provinsi Gorontalo. Ini adalah sebuah kota yang mewarisi keindahan budaya nenek moyang yang begitu mempesona.
Namun membahas tentang budaya atau kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat daerah Gorontalo saat ini tentu telah ada banyak perubahan dan pergeseran mengikuti perkembangan jaman, dibandingkan pada jaman dahulu dimana masing-masing individu masih mempertahankan nilai-nilai leluhur yang berlaku didalam masyarakat. Namun demikian saat ini masih ada kebiasaan-kebiasaan hidup dalam masyarakat yang terus dipelihara dan masih berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tentang adat perkawinan dan kesenian derah Gorontalo.
Sistem kekerabatan masyarakat gorontalo yang beraneka ragan profesi dan tingkat sosial tidak menjadi penghalang untuk tetap hidup dalam suasana kekeluargaan. Dan itu menjadi salah satu hal utama mengapa masyarakat gorontalo selalu hidup rukun dan tidak pernah terjadi bentrok atau konflik yang berskala besar. Sistem kemasyarakatan yang terus terpelihara dan berjalan dengan baik hingga saat ini adalah hidup bergotong-royong dan menyelesaikan masalah atau persoalan secara bersama-sama, musyawarah dan mufakat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyususnan makalah ini secara umum mengenai masalah “Kebudayaan Gorontalo”. Untuk memberikan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam penyususnan makalah ini masalahnya dibatasi pada :
1.2.1 Bagaimana tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo ?
1.2.2 Apa saja kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo ?
1.2.3 Bagaimana keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dalam penyususnan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi.
Adapun tujuan khusus dari penyususnan makalah ini adalah :
1.3.1 Ingin mengetahui tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo
1.3.2 Ingin mengetahui kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo
1.3.3 Ingin mengetahui keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat yang akan diperoleh dari penulisan makalah ini yaitu kita semua dapat memahami dan mengamalkan serta dapat mempertahankan dan melestarikan adat istiadat budaya daerah Gorontalo agar tidak terkikis oleh jaman dan tidak terpengaruh kebudayaan masyarakat lain serta tidak terpengaruh pula oleh budaya kebarat-baratan atau westerisasi.
1.5 Metode Penulisan
Dalam proses penyususnan makalah ini menggunakan metode heuristic. Metode heuristic yaitu proses pencarian dan pengumpulan sumber-sumber dalam melakukan kegiatan penelitian. Metode ini dipilih karena pada hakekatnya sesuai dengan kegiatan dan penulisan teknik pendekatan dalam proses penyusunannya.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yang selanjutnya dijabarkan sebagai berikut:
Bagian kesatu adalah pendahulua. Dalam bagian ini penyusun memaparkan beberapa pokok permasalahan awal yang berhubungan erat dengan permasalahan utama. Pada bagian pendahuluan ini dipaparkan tentang latar belakang masalah batasan, dan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, manfaat penulisan makalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bagian kedua yaitu pembahasan. Pada bagian ini merupakan bagian utama yang hendak dikaji dalam proses penyusunan makalah. Penulis berusaha mendeskripsikan berbagai temuan yang berhasil ditemukan dari hasil pencarian sumber / bahan.
Bagian ketiga yaitu kesimpilan dan saran. Pada kesempatan ini Penulis berusaha mengemukakan terhadap semua permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh penulis dalam perumusan masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengantar
Upacara perkawinan adat gotontalo berlangsung di dua tempat yaitu di tempat mempelai pria dan wanita, masing masing keluarga mempelai mengadakan pesta dirumah masing-masing. Dalam pesta tersebut selalu berlangsung meriah hingga berhari hari lamanya.
Beberapa hari sebelum pesta dilangsungkan semua keluarga dan kerabat telah datang berkumpul untuk membantu pelaksanaan pesta tersebut, baik ibu-ibu maupun bapak bapak selalu datang beramai- ramai.
Dalam pesta itu mempelai pria dan wanita menggunakan pakaian adat Bili’u dengan tempat pelaminan yang juga dihias menggunakan adat Gorontalo. Pesta yang berlangsung biasanya 3 hari itu dengan masing masing mempunyai sebutan setiap hari yang berbeda.
Pernikahan Adat Gorontalo ini perlu di lestarikan, karena mengandung nilai–nilai budaya yang tinggi. Adat Gorontalo ini semakin hari semakin terkontaminasi dengan perubahan zaman. Terlihat dimana–mana pernikahan di Gorontalo tanpa melewati lagi prosesi adat gorontalo. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, banyak pemuda zaman sekarang yang enggan mempelajari adat pernikahan gorontalo. Sehingga warisan leluhur ini semakin terlupakan, karena tidak adanya regenerasi penerus Adati lo Hulondhalo.
Pernikahan Adat Gorontalo memiliki ciri khas tersendiri. Karena penduduk Provinsi Gorontalo memiliki penduduk yang hampir seluruhnya memeluk agama Islam, sudah tentu adat istiadatnya sangat menjunjung tinggi kaidah-kaidah Islam. Untuk itu ada semboyan yang selalu dipegang oleh masyarakat Gorontalo yaitu, “Adati hula hula Sareati, Sareati hula hula to Kitabullah” yang artinya, Adat Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah. Pengaruh Islam menjadi hukum tidak tertulis di Gorontalo sehingga mengatur segala kehidupan masyarakatnya dengan bersendikan Islam. Termasuk adat pernikahan di Gorontalo yang sangat bernuansa Islami. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut Upacara adat yang sesuai tahapan atau Lenggota Lo Nikah
2.2 Tahapan Upacara Pernikahan Adat Gorontalo
Berikut akan diuraiakan tahapan pernikahan adat gorontalo sesuai dengan Lenggota Lo Nikah atau tata urutan adat pernikahan daerah Gorontalo.
2.2.1 Mopoloduwo Rahasia
Mopoloduwo rahasia yaitu dimana orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua sang wanita untuk memperoleh restu pernikahan anak mereka. Apabila keduanya menyetujui, maka ditentukan waktu untuk melangsungkan peminangan atau Tolobalango.
2.2.2 Tolobalango
Tolobalango adalah peminangan secara resmi yang dihadiri oleh pemangku adat Pembesar Negeri dan keluarga melalui juru bicara pihak keluarga pria atau Lundthu Dulango Layio dan juru bicara utusan keluarga wanita atau Lundthu Dulango Walato, Penyampaian maksud peminangan dilantunkan melalui pantun-pantun yang indah. Dalam Peminangan Adat Gorontalo tidak menyebutkan biaya pernikahan (Tonelo) oleh pihak utusan keluarga calon pengantin pria, namun yang terpenting mengungkapkan Mahar atau Maharu dan penyampaian acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.
2.2.3 Depito Dutu
Pada waktu yang telah disepakati dalam acara Tolobalango maka prosesi selanjutnya adalah mengantar harta atau antar mahar, didaerah gorontalo disebut Depito Dutu yang terdiri dari 1 paket mahar, sebuah paket lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, ditambah seperangkat busana pengantin wanita, serta bermacam buah-buahan dan bumbu dapur atau dilonggato.
Semua mahar ini dimuat dalam sebuah kendaraan yang didekorasi menyerupai perahu yang disebut Kola–Kola. Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah Yiladiya (kediaman/ rumah raja) calon pengantin pria menuju rumah Yiladiya pengantin wanita diringi dengan gendering adat dan kelompok Tinilo diiringi tabuhan rebana melantunkan lagu tradisional Gorontalo yang sudah turun temurun, yang berisi sanjungan, himbauan dan doa keselamatan dalam hidup berumah tangga dunia dan akhirat.
2.2.4 Mopotilandahu
Pada malam sehari sebelum Akad Nikah digelar serangkaian acara malam pertunangan atau Mopotilandahu. Acara ini diawali dengan Khatam Qur’an, proses in bermakna bahwa calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan mengajinya dengan membaca ‘Wadhuha’ sampai Surat Lahab. Dilanjutkan dengan Molapi Saronde yaitu tarian yang dibawakan oleh calon mempelai pria dan ayah atau wali laki-laki. Tarian ini menggunakan sehelai selendang. Ayah dan calon mempelai pria secara bergantian menarikannya, sedangkan sang calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau dari kamar.
Bagi calon mempelai pria ini merupakan sarana menengok atau mengintip calon istrinya, istilah daerah Gorontalo di sebut Molile Huali. Dengan tarian ini calon mempelai pria mecuri-curi pandang untuk melihat calonnya. Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa Arab yang juga merupakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.
Lalu sang calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan keberanian dan keyakinan menghadapi badai yang akan terjadi kelak bila berumah tangga. Usai menarikan Tarian Tidi, calon mempelai wanita duduk kembali ke pelaminan dan calon mempelai pria dan rombongan pemangku adat beserta keluarga kembali ke rumahnya.
2.2.5 Tari Saronde
TARI Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tarian ini dilakukan di halaman calon mempelai wanita. Tentu penarinya adalah calon mempelai laki-laki bersama orang tua atau walinya. Ini adalah cara orang Gorontalo menjenguk atau mengintip calon pasangan hidupnya.
Dalam bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang berarti menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian prosesi adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama ayah atau wali. Mereka menari dengan selendang.
Sementara calon mempelai wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan pujaan hatinya dari dalam. Menampakkan sedikit dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa ia mendapat perhatian. Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri pandang ke arah calon mempelai wanita.
Tari Saronde dipengaruhi secara kuat oleh agama Islam. Tarian ini dimulai dengan pemukulan rebana, alat musik pukul berbentuk bundar. Lirik lagu adalah syair-syair pujian terhadap Tuhan dan doa memohon keselamatan dalam bahasa Arab.
2.2.6 Akad Nikah
Keesokan harinya Pemangku Adat melaksanakan Akad Nikah, sebagai acara puncak dimana kedua mempelai akan disatukan dalan ikatan pernikahan yang sah menurut Syariat Islam. Dengan cara setengah berjongkok mempelai pria dan penghulu mengikrarkan Ijab Kabul dan mas kawin yang telah disepakati kedua belah pihak keluarga. Acara ini selanjutnya ditutup dengan doa sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan ini.
2.2.7 Pakaian Adat Gorontalo
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.
2.2.8 Nuansa Warna Bagi Masyarakat Gorontalo
Dalam adat istiadat gorontalo , setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu, karena itu dalam upacara pernikahan masyarakat gorontalo hanya menggunakan empat warna utama , yaitu merah ,hijau , kuning emas , dan ungu. Warna merah dalam masyarakat gorontalo bermakna keberanian dan tanggung jawab , hijau bermakna Kesuburan, kesehjateraan , kedamaian dan kerukunan, kuning emas bermakna kemulian, kesetiaan ,kesabaran dan kejujuran sedangkan warna ungu bermakna keanggunan dan kewibawaan.
Pada umumnya masyarakat Gorontalo enggan memakai pakai warna coklat karena coklat melambangkan tanah , karena itu bila mereka ingin memakai pakaian warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna keteguhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa , warna putih bermakna kesucian dan kedudukan , karena itu masyarakat gorontalo lebih suka mengenakkan warna putih bila pergi ke tempat perkebungan atau kedukaan atau tempat ibadah (masjid), biru muda sering digunakan pada saat peringatan 40 hari duka,sedangkan biru tua digunakan pada peringatan 100 hari duka.
Dalam adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H dilaksanakan dutu, dimana kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan buah-buahan , seperti jeruk , nangka ,nenas , tebu , setiap buah yang dibawah juga punya makna tersendiri misalnya buah jeruk berkmakna bahwa pengantin harus merendahkan diri, duri jeruk bermkana bahwa pengantin harus menjaga diri dan rasanya yang manis bermakna bahwa pengantin harus menjaga tata krama atau sifat manis yang disukai orang .nenas durinya juga bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri dan begitu juga rasanya yang manis.nangka dalam bahasa gorontalo langge loo olooto , yang berbau harum dan berwarna kuning emas yang bermakna pengantin harus mempunyai sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning bermakna pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam pendirian.
2.3 Kesenian Daerah
Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.
2.3.1 Tarian
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
2.3.2 Lagu-lagu daerah Gorontalo
Lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang), Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
2.3.3 Rumah Adat
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain, yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
2.3.4 Bahasa Daerah
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
2.3.5 Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara tujuh bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.
2.3.6 A q i q a h
Upacara aqiqah biasanya dilaksanakan 1 bulan atau 40 hari usia anak yang baru dilahirkan, namun ada sebagian masyarakat yang melaksanakan aqiqah lebih awal bahkan ada yang lebih dari 40 hari bergantung kepada kemampuan orang tua si anak.
Upacara aqiqah untuk suku Gorontalo tentu berbeda dengan yang dilaksanakan pada umumnya.
Pada jaman dulu para orang tua melaksanakan upacara aqiqah itu pada 7 hari setelah anak dilahirkan, yang disertai dengan upacara naik ayunan atau yang disebut buye buye. Pada upacara ini sekaligus dilaksanakan sunat bagi anak perempuan.
2.3.7 Khitanan dan Beat
Meskipun kemajuan teknologi telah merambah ke suluruh pelosok Gorontalo, namun adat istiadat yang telah ada sejak jaman nenek moyang tetap terpelihara dengan baik, bebagai upacara adat masih tetap dilaksanakan, misalnya upacara Khitanan bagi anak laki-laki dan Beat bagi anak perempuan. Dalam upacara ini masih ada sebagaian masyarakat yang menggunakan alat tradisional untuk mengkhitan anak laki-laki. Namun seiring dengan kemajuan teknologi dan mengurangi resiko yang dapat berakibat fatal maka saat ini telah terjadi pergeseran dengan menggunakan alat yang lebih modern dengan menggunakan tenaga dokter.
Khitanan
Khusus upacara Beat untuk anak perempuan yang telah aqil baligh,adat tersebut masih tetap dilakukan.
2.3.8 Sapaan Atau Toli
Sapaan atau toli atau nama panggilan bagi seseorang adalah suatu kebudayaan masyarakat gorontalo. Tata krama ini sudah ada berabad-abad lamanya . menurut “wulito” atau cerita leluhur kebudayaan ini berkembang menjadi “pulangga “ atau gelar kepada raja jogugu,marsaoleh,dan para pejabat kerajaan / negri yang dinobatkan atau dinilai berilomato atau berkarya dalam negeri bahkan apabila wafatpun raja dan pejabat-pejabat masih di anugrahi gelar yang disebut gara’I yang juga diberikan sesuai karyanya semasa hidupnya .
Sapaan bermakna sebagai suatu penghormatan bagi seseorang ,selain dari pada itu sapaan atau toli bisa memper erat tali persaudaraan atau tali kekeluargaan dengan sapaan yang manis seseorang merasa dihargai sehingga timbul ‘ sense of belonging‘ merasa bagian keluarga atau lingkungannya.
Nabi Muhammad SAW menyapa istri-istirnya dengan nama pangilan yang manis dan halus .beliau menyapa aisyahra ‘humairah ‘ artinya si pipi yang merah , yaitu sapaan kesayangan buat istri yang cantik.
Pada zaman dahulu dalam lingkungan kerajaan-kerajaan ,sapaan-sapaan terjaga dengan sangat baik dalam lingkungan ini hamper tidak terdengar panggilan nama asli/kecil seseorang . menyapa raja dan pejabat-pejabat Ti Olangia , Ti Jogugu ,Ti Wulea ,atau sapaan ti Eyanggu . sapaan untuk ratu , permaisuri atau istri-istri pejabat Ti Mbui , Ti Boki, Putra-Putri dan cucu Bantha , Te tapulu ,Te Putiri , Te Uti , Ti Pii dan sebagainya. sebaliknya keluarga dan para putra-putri pegawai kerajaan dengan nama jabatan masing-masing sampai pangkat yang paling rendah sekalipun tak menyebut nama kecil.
2.3.9 Tumbilotohe
Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo. Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri.
Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.
Menurut sejarah kegiatan Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah. Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran.
Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu.
Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu-lampu bot Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al ol di depan rumah- rumah penduduk tampak mempesona
Tumbilotohe menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan ma Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu. Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.
2.3.10 Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Bunggo terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan, tapi dalam bermain permainan ini pemain harus berhati-hati karena dapat membuat pemain kebakaran alis dan bulu mata.
2.3.11 Walima
Walima dalam bahasa Arab yang artinya perayaan oleh masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga diisi dengan bahan makanan pokok hasil kebun, ternak dll yang disiapkan apa adanya.
Bagi masyarakat, Walima adalah hasil karya seni tinggi yang dipersiapkan berbulan-bulan, memerlukan kesabaran yang tinggi untuk mengerjakannya serta membutuhkan biaya yang lumayan besar.
Bagian-bagian dalam Walima:
a. Tolangga
Bamboo
Rotan
Kayu
Tolangga terbuat dari kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun-tahun, disimpan oleh masyarakat untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.
b. Kertas Warna
Bahan kertas warna digunakan untuk menghiasi bambu atau rotan pada Tolangga.
c. Bendera
Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah.
Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan di setiap sisi pada tengah walima.
Bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.
d. Kolombengi
Terbuat dari tepung, gula & telur, kue ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima.
e. Tusuk Kue
Terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran tolangga.
f.. Plastik
Plastik bening biasa untuk melindungi kue kolombengi setelah ditusuk.
g. Lilingo
Terbuat dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut – asap, kue basah, dll.
h. Makanan
Nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar & pisang.
2.3.12 Tunuhio
Dalam bahasa Indonesia tunuhio adalah yang diikutkan atau bersamaan ini adalah sejumlah uang sesuai kemampuan pemilik walima, jumlahnya biasanya mengikuti ukuran besar kecilnya walima tetapi juga ini tidak harus mengikuti ukuran walima, uang ini diserahkan pemilik walima kepada panitia pada saat walima tiba di masjid, jumlah uang (Tunuhi) pada saat maulid di Bongo bila ditotal bisa puluhan juta dan dibagikan kepada pezikir yang datang dari luar daerah untuk mengganti transportasai dll.
2.3.13 Dikili
Dikili dalam bahasa Gorontalo biasanya dikenal pada saat maulid, dalam bahasa Indonesia lebih kurang artinya adalah Zikir, dalam peringatan maulid Nabi para pezikir datang hampir mewakili wilayah Gorontalo jumlahnya bisa menjadi 500 orang, biasanya masyarakat Gorontalo yang berdomisili di wilayah itu dan hobi dengan Dikili. Dikili ini dilagukan dalam irama yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah sholat Isya dan berakhir sebelum sholat zuhur atau lebih kurang 15 jam. Irama zikir yang khas ini membuat orang terkagum-kagum dan marasakan akan kejadian maulid Nabi.
2.4 Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
Dewasa ini kita telah menghadapi masa globalisasi yang hubungan manusianya tiada batas antar satu benua dengan banua lain. Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang ini sudah mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan misalnya saja dalam hal upacara adat perkawinan. Dalam upacara adat perkawinan adat Gorontalo dimasa sekarang ini banyak sesi-sesi adat yang dilewati misalnya saja dalam upacara malam sebelum diadakannya akad pernikahan, banyak anak muda sekarang yang tidak lagi menggunakan tarian-tarian untuk memikat hati mempelai wanita karena diakibatkan bebrapa faktor diantaranya sebagai berikut:
· Kurangnya pengetahuan akan adat budaya daerah Gorontalo
· Kurangnya pengetahuan akan tarian adat
· Kurangnya pengetahuan pembelajaran tentang adat budaya gorontalo
· Pergaulan kaum muda mudi yang sudah tergerus oleh jaman atau berprilaku hidup modern.
Faktor-faktor tersebut diatas yang membuat memudarnya kebudayaan Gorontalo.
Oleh karena itu kita kaum muda harus bisa mempertahankan budaya Gorontalo agar tetap lestari, karena budaya itulah yang menjadi warisan leluhur nenek moyang suku Gorontalo.
Kota Gorontalo dan wilayah sekitarnya dihuni oleh beragam suku, yaitu Suku Gorontalo, Suku Bugis, Suku Polahi, Suku Jawa, Suku Makassar, Suku Bali, Suku Minahasa, dan Tionghoa. Suku asli Gorontalo memiliki warisan kebudayaan. Bebeapa di antaranya adalah rumah adat yang berarsitektur indah. Setiap tahun, beragam suku di Gorontalo menampilkan warna-warni kebudayaan mereka dalam Festival Otanaha.
Kebudayaan asli Gorontalo sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam. Orang Gorontalo mengawinkan unsur adat dan agama secara cantik. Lihatlah tradisi tumbilotohe, yaitu tradisi membuat Kota Gorontalo gemerlap dengan lentera setiap malam lebaran. Dalam pesta perkawinan, masyarakat Gorontalo menyanyi dan menari dengan musik rebana dan syair doa.
Menurut sejarah, Jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
* Pohala'a Gorontalo
* Pohala'a Limboto
* Pohala'a Suwawa
* Pohala'a Boalemo
* Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
* "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
* Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
* Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
* Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
* Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
* Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
* Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah " Rechtatreeks Bestur ". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
* Onder Afdeling Kwandang
* Onder Afdeling Boalemo
* Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
* Distrik Kwandang
* Distrik Limboto
* Distrik Bone
* Distrik Gorontalo
* Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
* Afdeling Gorontalo
* Afdeling Boalemo
* Afdeling Buol
Sebelum kemerdekaan Republik , rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Gorontalo " yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
Budaya Daerah Gorontalo
Budaya dalam suatu masyarakat etnis tertentu merupakan akal budi, pikiran manusia, cipta karsa, dan hasil karya yang diciptakan oleh kelompok masyarakat etnis tersebut. Dengan adanya budaya, masyarakat dapat menetukan hukum-hukum yang berlaku di suatu kelompok yang merupakan nilai moral suatu entnis tertentu yang akhirnya menjadi kebiasaan-kebiasaan entis atau suku tertentu, termasuk juga budaya adat istiadat daerah Gorontalo.
Gorontalo adalah ibu kota dari sebuah provinsi di bagian utara Sulawesi dengan nama yang sama, Provinsi Gorontalo. Ini adalah sebuah kota yang mewarisi keindahan budaya nenek moyang yang begitu mempesona.
Namun membahas tentang budaya atau kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat daerah Gorontalo saat ini tentu telah ada banyak perubahan dan pergeseran mengikuti perkembangan jaman, dibandingkan pada jaman dahulu dimana masing-masing individu masih mempertahankan nilai-nilai leluhur yang berlaku didalam masyarakat. Namun demikian saat ini masih ada kebiasaan-kebiasaan hidup dalam masyarakat yang terus dipelihara dan masih berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tentang adat perkawinan dan kesenian derah Gorontalo.
Sistem kekerabatan masyarakat gorontalo yang beraneka ragan profesi dan tingkat sosial tidak menjadi penghalang untuk tetap hidup dalam suasana kekeluargaan. Dan itu menjadi salah satu hal utama mengapa masyarakat gorontalo selalu hidup rukun dan tidak pernah terjadi bentrok atau konflik yang berskala besar. Sistem kemasyarakatan yang terus terpelihara dan berjalan dengan baik hingga saat ini adalah hidup bergotong-royong dan menyelesaikan masalah atau persoalan secara bersama-sama, musyawarah dan mufakat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyususnan makalah ini secara umum mengenai masalah “Kebudayaan Gorontalo”. Untuk memberikan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam penyususnan makalah ini masalahnya dibatasi pada :
1.2.1 Bagaimana tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo ?
1.2.2 Apa saja kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo ?
1.2.3 Bagaimana keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dalam penyususnan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi.
Adapun tujuan khusus dari penyususnan makalah ini adalah :
1.3.1 Ingin mengetahui tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo
1.3.2 Ingin mengetahui kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo
1.3.3 Ingin mengetahui keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat yang akan diperoleh dari penulisan makalah ini yaitu kita semua dapat memahami dan mengamalkan serta dapat mempertahankan dan melestarikan adat istiadat budaya daerah Gorontalo agar tidak terkikis oleh jaman dan tidak terpengaruh kebudayaan masyarakat lain serta tidak terpengaruh pula oleh budaya kebarat-baratan atau westerisasi.
1.5 Metode Penulisan
Dalam proses penyususnan makalah ini menggunakan metode heuristic. Metode heuristic yaitu proses pencarian dan pengumpulan sumber-sumber dalam melakukan kegiatan penelitian. Metode ini dipilih karena pada hakekatnya sesuai dengan kegiatan dan penulisan teknik pendekatan dalam proses penyusunannya.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yang selanjutnya dijabarkan sebagai berikut:
Bagian kesatu adalah pendahulua. Dalam bagian ini penyusun memaparkan beberapa pokok permasalahan awal yang berhubungan erat dengan permasalahan utama. Pada bagian pendahuluan ini dipaparkan tentang latar belakang masalah batasan, dan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, manfaat penulisan makalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bagian kedua yaitu pembahasan. Pada bagian ini merupakan bagian utama yang hendak dikaji dalam proses penyusunan makalah. Penulis berusaha mendeskripsikan berbagai temuan yang berhasil ditemukan dari hasil pencarian sumber / bahan.
Bagian ketiga yaitu kesimpilan dan saran. Pada kesempatan ini Penulis berusaha mengemukakan terhadap semua permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh penulis dalam perumusan masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengantar
Upacara perkawinan adat gotontalo berlangsung di dua tempat yaitu di tempat mempelai pria dan wanita, masing masing keluarga mempelai mengadakan pesta dirumah masing-masing. Dalam pesta tersebut selalu berlangsung meriah hingga berhari hari lamanya.
Beberapa hari sebelum pesta dilangsungkan semua keluarga dan kerabat telah datang berkumpul untuk membantu pelaksanaan pesta tersebut, baik ibu-ibu maupun bapak bapak selalu datang beramai- ramai.
Dalam pesta itu mempelai pria dan wanita menggunakan pakaian adat Bili’u dengan tempat pelaminan yang juga dihias menggunakan adat Gorontalo. Pesta yang berlangsung biasanya 3 hari itu dengan masing masing mempunyai sebutan setiap hari yang berbeda.
Pernikahan Adat Gorontalo ini perlu di lestarikan, karena mengandung nilai–nilai budaya yang tinggi. Adat Gorontalo ini semakin hari semakin terkontaminasi dengan perubahan zaman. Terlihat dimana–mana pernikahan di Gorontalo tanpa melewati lagi prosesi adat gorontalo. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, banyak pemuda zaman sekarang yang enggan mempelajari adat pernikahan gorontalo. Sehingga warisan leluhur ini semakin terlupakan, karena tidak adanya regenerasi penerus Adati lo Hulondhalo.
Pernikahan Adat Gorontalo memiliki ciri khas tersendiri. Karena penduduk Provinsi Gorontalo memiliki penduduk yang hampir seluruhnya memeluk agama Islam, sudah tentu adat istiadatnya sangat menjunjung tinggi kaidah-kaidah Islam. Untuk itu ada semboyan yang selalu dipegang oleh masyarakat Gorontalo yaitu, “Adati hula hula Sareati, Sareati hula hula to Kitabullah” yang artinya, Adat Bersendikan Syara, Syara Bersendikan Kitabullah. Pengaruh Islam menjadi hukum tidak tertulis di Gorontalo sehingga mengatur segala kehidupan masyarakatnya dengan bersendikan Islam. Termasuk adat pernikahan di Gorontalo yang sangat bernuansa Islami. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut Upacara adat yang sesuai tahapan atau Lenggota Lo Nikah
2.2 Tahapan Upacara Pernikahan Adat Gorontalo
Berikut akan diuraiakan tahapan pernikahan adat gorontalo sesuai dengan Lenggota Lo Nikah atau tata urutan adat pernikahan daerah Gorontalo.
2.2.1 Mopoloduwo Rahasia
Mopoloduwo rahasia yaitu dimana orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua sang wanita untuk memperoleh restu pernikahan anak mereka. Apabila keduanya menyetujui, maka ditentukan waktu untuk melangsungkan peminangan atau Tolobalango.
2.2.2 Tolobalango
Tolobalango adalah peminangan secara resmi yang dihadiri oleh pemangku adat Pembesar Negeri dan keluarga melalui juru bicara pihak keluarga pria atau Lundthu Dulango Layio dan juru bicara utusan keluarga wanita atau Lundthu Dulango Walato, Penyampaian maksud peminangan dilantunkan melalui pantun-pantun yang indah. Dalam Peminangan Adat Gorontalo tidak menyebutkan biaya pernikahan (Tonelo) oleh pihak utusan keluarga calon pengantin pria, namun yang terpenting mengungkapkan Mahar atau Maharu dan penyampaian acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.
2.2.3 Depito Dutu
Pada waktu yang telah disepakati dalam acara Tolobalango maka prosesi selanjutnya adalah mengantar harta atau antar mahar, didaerah gorontalo disebut Depito Dutu yang terdiri dari 1 paket mahar, sebuah paket lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, ditambah seperangkat busana pengantin wanita, serta bermacam buah-buahan dan bumbu dapur atau dilonggato.
Semua mahar ini dimuat dalam sebuah kendaraan yang didekorasi menyerupai perahu yang disebut Kola–Kola. Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah Yiladiya (kediaman/ rumah raja) calon pengantin pria menuju rumah Yiladiya pengantin wanita diringi dengan gendering adat dan kelompok Tinilo diiringi tabuhan rebana melantunkan lagu tradisional Gorontalo yang sudah turun temurun, yang berisi sanjungan, himbauan dan doa keselamatan dalam hidup berumah tangga dunia dan akhirat.
2.2.4 Mopotilandahu
Pada malam sehari sebelum Akad Nikah digelar serangkaian acara malam pertunangan atau Mopotilandahu. Acara ini diawali dengan Khatam Qur’an, proses in bermakna bahwa calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan mengajinya dengan membaca ‘Wadhuha’ sampai Surat Lahab. Dilanjutkan dengan Molapi Saronde yaitu tarian yang dibawakan oleh calon mempelai pria dan ayah atau wali laki-laki. Tarian ini menggunakan sehelai selendang. Ayah dan calon mempelai pria secara bergantian menarikannya, sedangkan sang calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau dari kamar.
Bagi calon mempelai pria ini merupakan sarana menengok atau mengintip calon istrinya, istilah daerah Gorontalo di sebut Molile Huali. Dengan tarian ini calon mempelai pria mecuri-curi pandang untuk melihat calonnya. Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa Arab yang juga merupakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.
Lalu sang calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan keberanian dan keyakinan menghadapi badai yang akan terjadi kelak bila berumah tangga. Usai menarikan Tarian Tidi, calon mempelai wanita duduk kembali ke pelaminan dan calon mempelai pria dan rombongan pemangku adat beserta keluarga kembali ke rumahnya.
2.2.5 Tari Saronde
TARI Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tarian ini dilakukan di halaman calon mempelai wanita. Tentu penarinya adalah calon mempelai laki-laki bersama orang tua atau walinya. Ini adalah cara orang Gorontalo menjenguk atau mengintip calon pasangan hidupnya.
Dalam bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang berarti menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian prosesi adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama ayah atau wali. Mereka menari dengan selendang.
Sementara calon mempelai wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan pujaan hatinya dari dalam. Menampakkan sedikit dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa ia mendapat perhatian. Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri pandang ke arah calon mempelai wanita.
Tari Saronde dipengaruhi secara kuat oleh agama Islam. Tarian ini dimulai dengan pemukulan rebana, alat musik pukul berbentuk bundar. Lirik lagu adalah syair-syair pujian terhadap Tuhan dan doa memohon keselamatan dalam bahasa Arab.
2.2.6 Akad Nikah
Keesokan harinya Pemangku Adat melaksanakan Akad Nikah, sebagai acara puncak dimana kedua mempelai akan disatukan dalan ikatan pernikahan yang sah menurut Syariat Islam. Dengan cara setengah berjongkok mempelai pria dan penghulu mengikrarkan Ijab Kabul dan mas kawin yang telah disepakati kedua belah pihak keluarga. Acara ini selanjutnya ditutup dengan doa sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan ini.
2.2.7 Pakaian Adat Gorontalo
Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.
2.2.8 Nuansa Warna Bagi Masyarakat Gorontalo
Dalam adat istiadat gorontalo , setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu, karena itu dalam upacara pernikahan masyarakat gorontalo hanya menggunakan empat warna utama , yaitu merah ,hijau , kuning emas , dan ungu. Warna merah dalam masyarakat gorontalo bermakna keberanian dan tanggung jawab , hijau bermakna Kesuburan, kesehjateraan , kedamaian dan kerukunan, kuning emas bermakna kemulian, kesetiaan ,kesabaran dan kejujuran sedangkan warna ungu bermakna keanggunan dan kewibawaan.
Pada umumnya masyarakat Gorontalo enggan memakai pakai warna coklat karena coklat melambangkan tanah , karena itu bila mereka ingin memakai pakaian warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna keteguhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa , warna putih bermakna kesucian dan kedudukan , karena itu masyarakat gorontalo lebih suka mengenakkan warna putih bila pergi ke tempat perkebungan atau kedukaan atau tempat ibadah (masjid), biru muda sering digunakan pada saat peringatan 40 hari duka,sedangkan biru tua digunakan pada peringatan 100 hari duka.
Dalam adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H dilaksanakan dutu, dimana kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan buah-buahan , seperti jeruk , nangka ,nenas , tebu , setiap buah yang dibawah juga punya makna tersendiri misalnya buah jeruk berkmakna bahwa pengantin harus merendahkan diri, duri jeruk bermkana bahwa pengantin harus menjaga diri dan rasanya yang manis bermakna bahwa pengantin harus menjaga tata krama atau sifat manis yang disukai orang .nenas durinya juga bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri dan begitu juga rasanya yang manis.nangka dalam bahasa gorontalo langge loo olooto , yang berbau harum dan berwarna kuning emas yang bermakna pengantin harus mempunyai sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning bermakna pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam pendirian.
2.3 Kesenian Daerah
Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.
2.3.1 Tarian
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
2.3.2 Lagu-lagu daerah Gorontalo
Lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang), Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
2.3.3 Rumah Adat
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain, yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
2.3.4 Bahasa Daerah
Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
2.3.5 Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara tujuh bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.
2.3.6 A q i q a h
Upacara aqiqah biasanya dilaksanakan 1 bulan atau 40 hari usia anak yang baru dilahirkan, namun ada sebagian masyarakat yang melaksanakan aqiqah lebih awal bahkan ada yang lebih dari 40 hari bergantung kepada kemampuan orang tua si anak.
Upacara aqiqah untuk suku Gorontalo tentu berbeda dengan yang dilaksanakan pada umumnya.
Pada jaman dulu para orang tua melaksanakan upacara aqiqah itu pada 7 hari setelah anak dilahirkan, yang disertai dengan upacara naik ayunan atau yang disebut buye buye. Pada upacara ini sekaligus dilaksanakan sunat bagi anak perempuan.
2.3.7 Khitanan dan Beat
Meskipun kemajuan teknologi telah merambah ke suluruh pelosok Gorontalo, namun adat istiadat yang telah ada sejak jaman nenek moyang tetap terpelihara dengan baik, bebagai upacara adat masih tetap dilaksanakan, misalnya upacara Khitanan bagi anak laki-laki dan Beat bagi anak perempuan. Dalam upacara ini masih ada sebagaian masyarakat yang menggunakan alat tradisional untuk mengkhitan anak laki-laki. Namun seiring dengan kemajuan teknologi dan mengurangi resiko yang dapat berakibat fatal maka saat ini telah terjadi pergeseran dengan menggunakan alat yang lebih modern dengan menggunakan tenaga dokter.
Khitanan
Khusus upacara Beat untuk anak perempuan yang telah aqil baligh,adat tersebut masih tetap dilakukan.
2.3.8 Sapaan Atau Toli
Sapaan atau toli atau nama panggilan bagi seseorang adalah suatu kebudayaan masyarakat gorontalo. Tata krama ini sudah ada berabad-abad lamanya . menurut “wulito” atau cerita leluhur kebudayaan ini berkembang menjadi “pulangga “ atau gelar kepada raja jogugu,marsaoleh,dan para pejabat kerajaan / negri yang dinobatkan atau dinilai berilomato atau berkarya dalam negeri bahkan apabila wafatpun raja dan pejabat-pejabat masih di anugrahi gelar yang disebut gara’I yang juga diberikan sesuai karyanya semasa hidupnya .
Sapaan bermakna sebagai suatu penghormatan bagi seseorang ,selain dari pada itu sapaan atau toli bisa memper erat tali persaudaraan atau tali kekeluargaan dengan sapaan yang manis seseorang merasa dihargai sehingga timbul ‘ sense of belonging‘ merasa bagian keluarga atau lingkungannya.
Nabi Muhammad SAW menyapa istri-istirnya dengan nama pangilan yang manis dan halus .beliau menyapa aisyahra ‘humairah ‘ artinya si pipi yang merah , yaitu sapaan kesayangan buat istri yang cantik.
Pada zaman dahulu dalam lingkungan kerajaan-kerajaan ,sapaan-sapaan terjaga dengan sangat baik dalam lingkungan ini hamper tidak terdengar panggilan nama asli/kecil seseorang . menyapa raja dan pejabat-pejabat Ti Olangia , Ti Jogugu ,Ti Wulea ,atau sapaan ti Eyanggu . sapaan untuk ratu , permaisuri atau istri-istri pejabat Ti Mbui , Ti Boki, Putra-Putri dan cucu Bantha , Te tapulu ,Te Putiri , Te Uti , Ti Pii dan sebagainya. sebaliknya keluarga dan para putra-putri pegawai kerajaan dengan nama jabatan masing-masing sampai pangkat yang paling rendah sekalipun tak menyebut nama kecil.
2.3.9 Tumbilotohe
Tumbilotohe yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga Gorontalo. Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul Fitri.
Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.
Menurut sejarah kegiatan Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak tanah. Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah, Tumbilotohe mengalami pergeseran.
Hampir sebagian warga mengganti penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi, sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau bambu.
Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam yang diterangi cahaya lampu-lampu bot Kota Gorontalo berubah semarak karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu dibentuk gambar masjid, kitab suci Al ol di depan rumah- rumah penduduk tampak mempesona
Tumbilotohe menjadi semacam magnet bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar. Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe. Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang memanjakan ma Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah, kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu. Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati menyambut Idul Fitri.
2.3.10 Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Bunggo terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan, tapi dalam bermain permainan ini pemain harus berhati-hati karena dapat membuat pemain kebakaran alis dan bulu mata.
2.3.11 Walima
Walima dalam bahasa Arab yang artinya perayaan oleh masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga diisi dengan bahan makanan pokok hasil kebun, ternak dll yang disiapkan apa adanya.
Bagi masyarakat, Walima adalah hasil karya seni tinggi yang dipersiapkan berbulan-bulan, memerlukan kesabaran yang tinggi untuk mengerjakannya serta membutuhkan biaya yang lumayan besar.
Bagian-bagian dalam Walima:
a. Tolangga
Bamboo
Rotan
Kayu
Tolangga terbuat dari kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun-tahun, disimpan oleh masyarakat untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.
b. Kertas Warna
Bahan kertas warna digunakan untuk menghiasi bambu atau rotan pada Tolangga.
c. Bendera
Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah.
Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan di setiap sisi pada tengah walima.
Bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.
d. Kolombengi
Terbuat dari tepung, gula & telur, kue ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima.
e. Tusuk Kue
Terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran tolangga.
f.. Plastik
Plastik bening biasa untuk melindungi kue kolombengi setelah ditusuk.
g. Lilingo
Terbuat dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut – asap, kue basah, dll.
h. Makanan
Nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar & pisang.
2.3.12 Tunuhio
Dalam bahasa Indonesia tunuhio adalah yang diikutkan atau bersamaan ini adalah sejumlah uang sesuai kemampuan pemilik walima, jumlahnya biasanya mengikuti ukuran besar kecilnya walima tetapi juga ini tidak harus mengikuti ukuran walima, uang ini diserahkan pemilik walima kepada panitia pada saat walima tiba di masjid, jumlah uang (Tunuhi) pada saat maulid di Bongo bila ditotal bisa puluhan juta dan dibagikan kepada pezikir yang datang dari luar daerah untuk mengganti transportasai dll.
2.3.13 Dikili
Dikili dalam bahasa Gorontalo biasanya dikenal pada saat maulid, dalam bahasa Indonesia lebih kurang artinya adalah Zikir, dalam peringatan maulid Nabi para pezikir datang hampir mewakili wilayah Gorontalo jumlahnya bisa menjadi 500 orang, biasanya masyarakat Gorontalo yang berdomisili di wilayah itu dan hobi dengan Dikili. Dikili ini dilagukan dalam irama yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah sholat Isya dan berakhir sebelum sholat zuhur atau lebih kurang 15 jam. Irama zikir yang khas ini membuat orang terkagum-kagum dan marasakan akan kejadian maulid Nabi.
2.4 Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
Dewasa ini kita telah menghadapi masa globalisasi yang hubungan manusianya tiada batas antar satu benua dengan banua lain. Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang ini sudah mengalami banyak perubahan yang sangat signifikan misalnya saja dalam hal upacara adat perkawinan. Dalam upacara adat perkawinan adat Gorontalo dimasa sekarang ini banyak sesi-sesi adat yang dilewati misalnya saja dalam upacara malam sebelum diadakannya akad pernikahan, banyak anak muda sekarang yang tidak lagi menggunakan tarian-tarian untuk memikat hati mempelai wanita karena diakibatkan bebrapa faktor diantaranya sebagai berikut:
· Kurangnya pengetahuan akan adat budaya daerah Gorontalo
· Kurangnya pengetahuan akan tarian adat
· Kurangnya pengetahuan pembelajaran tentang adat budaya gorontalo
· Pergaulan kaum muda mudi yang sudah tergerus oleh jaman atau berprilaku hidup modern.
Faktor-faktor tersebut diatas yang membuat memudarnya kebudayaan Gorontalo.
Oleh karena itu kita kaum muda harus bisa mempertahankan budaya Gorontalo agar tetap lestari, karena budaya itulah yang menjadi warisan leluhur nenek moyang suku Gorontalo.
Kota Gorontalo dan wilayah sekitarnya dihuni oleh beragam suku, yaitu Suku Gorontalo, Suku Bugis, Suku Polahi, Suku Jawa, Suku Makassar, Suku Bali, Suku Minahasa, dan Tionghoa. Suku asli Gorontalo memiliki warisan kebudayaan. Bebeapa di antaranya adalah rumah adat yang berarsitektur indah. Setiap tahun, beragam suku di Gorontalo menampilkan warna-warni kebudayaan mereka dalam Festival Otanaha.
Kebudayaan asli Gorontalo sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam. Orang Gorontalo mengawinkan unsur adat dan agama secara cantik. Lihatlah tradisi tumbilotohe, yaitu tradisi membuat Kota Gorontalo gemerlap dengan lentera setiap malam lebaran. Dalam pesta perkawinan, masyarakat Gorontalo menyanyi dan menari dengan musik rebana dan syair doa.
Gorontalo adalah provinsi yang ke-32 di Indonesia. Sebelumnya, Gorontalo merupakan wilayah kabupaten di Sulawesi Utara. Seiring dengan munculnya pemekaran wilayah berkenaan dengan otonomi daerah, provinsi ini kemudian dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000 tertanggal 22 Desember 2000.
Provinsi Gorontalo terletak di pulau Sulawesi bagian utara atau di bagian barat Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi ini 12.215 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 887.000 jiwa (2004). Provinsi Gorontalo memiliki beberapa objek wisata yang lain yang cukup menarik dan perlu dikembangkan, antara lain, Goa Ular di Kecamatan Batudaa (kira-kira 28 km dari Kota Gorontalo); Benteng Otanaha ; Makam Keramat “ Ju Panggola “ ; Monumen Pahlawan Nani Wartabone ; Danau Limboto ; Menara Keagungan Limboto ; Taluhu Barakati ; Pemandian Air Panas Limbongo ; Pentadio Resort ; Pantai Indah Lahilote ; Benteng Orange ; Danau Perintis di Kecamatan Suwawa (18 km dari Kota Gorontalo); Taman Laut Pulau Limba di Kecamatan Paguyaman, Pulau Bitila di Kecamatan Paguat, Pantai Pasir Putih di Kecamatan Tilamuta, Air Terjun di Kecamatan Tilamuta, Cagar Alam Panua di Kelurahan Libuo, Kota Gorontalo, dan Pulau Asiangi di Kecamatan Tilamuta.
Keberhasilan dalam bidang kepariwisataan dicerminkan dengan semakin meningkatnya arus kunjungan wisatawan manca negara (wisman) dan wisatawan nusantara. Pada tahun 2003 banyaknya kunjungan wisatawan tercatat 97.724 orang yang terdiri dari 333 wisman dan 97.391 wisatawan nusantara. Provinsi Gorontalo menyimpan potensi plasma nutfah kawasan obyek wisata yang cukup beragam antara lain: Pemandian Air Panas Lombongo Pemandian Air Panas Pentadio Benteng Orange (peninggalan Portugis} di Kecamatan Kwandang Goa Ular di Kecamatan Batuda Taman Laut Pulau Limba di Kecamatan Paguyaman Taman Laut Pulau Bitila di Kecamatan Paguat Pasir Putih Tilamuta, Air Terjun Tilamuta, Cagar Alam Panua di Libuo, dan Pulau Asiangi Tilamuta Pantai Pasir Putih Boalemo Indah dan Taman Laut Perkampungan Suku Bajo (Desa Nelayan) Pantai Impian Bumbulan Indah di Kecamatan Paguat Perkampungan Suku Sangihe Talaud di Kecamatan Paguat dan Popayato Perkampungan Suku Minahasa di Kecamatan Paguat Hutan Lindung Nantu di Boliyohuto-Paguyaman Taman Nasional Bogani-Nani Wartabone di Suwawa-Bonepantai Pesisir Taman Laut Oleleh Kecamatan Bone Pantai Kabupaten Bone Bolango Adapun peluang investasi yang ditawarkan adalah: Pembangunan hotel berbintang, pembangunan fasilitas diving, pendirian biro perjalanan, pengembangan obyek wisata Lombongo, serta pembangunan sarana-sarana hiburan dan rekreasi.
Rumah Adat Dulohupa
Rumah Adat Dulohupa yang merupakan balai musyawarah dari kerabat kerajaan. Terbuat dari papan dengan bentuk atap khas daerah tersebut.
Pada bagian balakangnya terdapat anjungan tempat para raja dan kerabat istana beristirahat sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Saat ini rumah adat tersebut berada di tanah seluas + 500m² dan dilengkapi dengan taman bunga, bangunan tempat penjualan cenderamata, serta bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adapt ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan. Bangunan ini terletak di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.
Selain Rumah adat Dulohupa juga ada Rumah Adat Bandayo Pomboide yang terletak di depan Kantor Bupati Gorontalo. Bantayo artinya ‘gedung’ atau ‘bangunan’, sedangkan Pomboide berarti ‘tempat bermusyawarah’ . Bangunan ini sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya serta pertunjukan tari di Gorontalo. Di dalamnya terdapat berbagai ruang khusus dengan fungsi yang berbeda. Gaya arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang bernuansa Islami.
Tarian Khas Gorontalo
1. Tari Dana-dana adalah tari pergaulan remaja yang sampai saat ini masih berkembang di Daerah Gorontalo.
2. Dungan Tanali adalah petikan gambus dari Gendang Marwas. Syair pantunnya berisi pesan-pesan pembangunan yang dapat disimak oleh penonton.
3. Tari Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara resmi. Tarian ini diangkat dari tari adat malam pertunangan pada upacara adat perkawinan daerah Gorontalo.
4. Tari Tanam Padi adalah tarian yang digunakan saat merayakan panen raya padi dari para petani, namun juga digunakan dalam panen-panen lainnya sebagai tanda suka cita keberhasilan para petani dalam hasil bumi yang dipanennya.
5. Tari Sabe adalah atraksi alami berupa tarian di atas bara api dengan kekuatan magis. Tarian ini bisa dinikmati di Desa Ayuhulalo yang juga berada di Kecamatan Tilamuta.
Tumbilo Tohe
Budaya pasang lampu “Tumbilo Tohe” yaitu tradisi pasang lampu yang dilaksanakan tiap tahun di bulan puasa, 3 hari menjelang Idul Fitri yaitu pada tanggal 27 Ramadhan. Tradisi tersebut menurut sejarah dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah-nya pada malam hari. Pada saat itu hampir setiap tempat dipasangi lampu sehingga kota Gorontalo menjadi terang benderang.
Tumbilo Tohe terus dikembangkan sehingga dalam penataannya semakin indah, menarik namun tetap berpegang pada nilai-nilai dan nuansa kebudayaan Islam.
Benteng Otanaha
Objek wisata ini terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522.
Adapun sejarah pembangunan benteng ini adalah sebagai berikut.
Sekitar abad ke-15,dugaan orang bahwa sebagian besar daratan Gorontalo adalah air laut. Ketika itu, Kerajaan Gorontalo di bawah Pemerintahan Raja Ilato, atau Matolodulakiki bersama permaisurinya Tilangohula (1505–1585). Mereka memilik tiga keturunan, yakni Ndoba (wanita),Tiliaya (wanita),dan Naha (pria).Waktu usia remaja,Naha melanglang buana ke negeri seberang, sedangkan Ndoba dan Tiliaya tinggal di wilayah kerajaan.
Suatu ketika sebuah kapal layar Portugal singgah di Pelabuhan Gorontalo Karena kehabisan bahan makanan, pengaruh cuaca buruk, dan gangguan bajak laut.
Mereka menghadap kepada Raja Ilato. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan, bahwa untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, akan dibangun atau didirikan tiga buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat yang sekarang ini, yakni pada tahun 1525.
Ternyata, para nakhoda Portugis hanya memperalat Pasukan Ndoba dan Tiliaya ketika akan mengusir bajak laut yang sering menggangu nelayan di pantai.Seluruh rakyat dan pasukan Ndoba dan Tiliaya yang diperkuat empat Apitalau, bangkit dan mendesak bangsa Portugis untuk segera meninggalkan daratan Gorontalo.Para nakhkoda Portugis langsung meninggalkan Pelabuhan Gorontalo.
Ndoba dan Tiliaya tampil sebagai dua tokoh wanita pejuang waktu itu langsung mempersiapkan penduduk sekitar untuk menangkis serangan musuh dan kemungkinan perang yang akan terjadi.Pasukan Ndoba dan Tiliaya,diperkuat lagi dengan angkatan laut yang dipimpin oleh para Apitalau atau ‘kapten laut’, yakni Apitalau Lakoro, Pitalau Lagona, Apitalau Lakadjo, dan Apitalau Djailani.
Sekitar tahun 1585, Naha menemukan kembali ketiga benteng tersebut. Ia memperistri seorang wanita bernama Ohihiya.Dari pasangan suami istri ini lahirlah dua putra, yakni Paha (Pahu) dan Limonu.Pada waktu itu terjadi perang melawan Hemuto atau pemimpin golongan transmigran melalui jalur utara. Naha dan Paha gugur melawan Hemuto.
Limonu menuntut balas atas kematian ayah dan kakaknya. Naha, Ohihiya, Paha, dan Limonu telah memanfaatkan ketiga benteng tersebut sebagai pusat kekuatan pertahanan. Dengan latar belakang peristiwa di atas,maka ketiga benteng dimaksud telah diabadikan dengan nama sebagai berikut. Pertama, Otanaha. Ota artinya benteng. Naha adalah orang yang menemukan benteng tersebut. Otanaha berarti benteng yang ditemukan oleh Naha.
Kedua,Otahiya. Ota artinya benteng. Hiya akronim dari kata Ohihiya, istri Naha Otahiya, berarti benteng milik Ohihiya. Ketiga Ulupahu.Ulu akronim dari kata Uwole,artinya milik dari Pahu adalah putera Naha.Ulupahu berarti benteng milik Pahu Putra Naha.
Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu dibangun sekitar tahun1522 atas prakarsa Raja Ilato dan para nakhoda Portugal.
Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, dan memiliki 4 buah tempat persinggahan dan 348 buah anak tangga ke puncak sampai ke lokasi benteng. Jumlah anak tangga tidak sama untuk setiap persinggahan. Dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga; II = 83; III = 53; IV = 89; Benteng = 71 anak tangga (total: 348 tangga naik).
Makam Keramat “Ju Panggola”
Makam Keramat Ju Panggola terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, kira-kira 1 km ke arah barat dari lokasi Benteng Otanaha. Makam keramat ini terletak di atas bukit pada ketinggian 50 meter dari jalan raya, tepat di perbatasan Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Dari atas bukit ini kita dapat melihat Danau Limboto yang luas, dengan airnya yang makin kritis, dari kedalaman 32 meter kini tinggal 5 hingga 7 meter.
Ju Panggola adalah sebuah gelar atau julukan. Ju berarti ‘ya’, sedangkan Panggola berati ‘tua’. Jadi, Ju Panggola artinya Ya Pak Tua. Dalam sejarah nama Pak Tua tersebut adalah Ilato, yang artinya kilat. Karena kesaktian dan sifat keramatnya Ilato, mempunyai kemampuan untuk menghilang dan muncul jika negeri dalam keadaan gawat.
Makam tersebut memiliki banyak keajaiban,antara lain, tanah di atas bukit itu berbau harum. Menurut sejarah bahwa bukit tersebut pernah dihuni oleh beliau sebagai tempat bermunajat ke hadirat Alla swt.
Keajaiban tersebut masih dapat disaksikan hingga sekarang ini. Di makam itu setiap penziarah datang dan mengambil segengaman tanah di seputar makam, dan anehnya tanah galian tersebut tidak pernah menjadi lubang yang dalam padahal ribuan manusia mengambil tanah tersebut sebagai azimat.
Makam Ju Panggola setiap hari mendapat kunjungan dari para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sebagian dari mereka melaksanakan salat di Masjid Ju Panggola, sambil berdoa dan memohonkan berkah penyebuhan dari sakit yang diderita mereka.
Monumen Pahlawan Nani Wartabone
Monumen Nani Wartabone dibangun sekitar tahun 1987 pada masa pemerintahan Drs. A. Nadjamudin, Walikotamadya Gorontalo. Monumen ini terletak di Lapangan Teruna Remaja, Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selalatan, Kota Gorontalo, tepat di depan rumah Dinas Gubernur Provinsi Gorontalo saat ini .
Beliau lahir pada tanggal 30 April 1907 dan wafat tanggal 3 Januari 1996. Ayah beliau bernama Zakaria Wartabone, seorang Jogugu (semacam Camat) pada zaman Pemerintahan Belanda. Ibu beliau bernama Saerah Mooduto.
Pada Jumat, 07 November 2003 pukul 10.00 WIB Alm Haji Nani Wartabone dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Megawati Sukarnoputir bertempat di Istana Negara ditandai dengan pembacaan Surat Keppres RI Nomor 085/TK/2003, tanggal 6 November 2003.
Beliau pernah memimpin Pemerintahan Sipil di Gorontalo pasca-Hindia Belanda yang berumur 144 hari, dengan penduduk berjumlah 300 ribu orang. Wilayanya mencakup wilayah timur, Molibagu dan Kaidipang (sekarang wilayah Bolmong), dan wilayah barat, Buol dan Tolitoli (Sulteng).
jiwa patriotisme yang tumbuh dan terpelihara sejak abad ke-17, berpuncak pada patriotisme 23 Januari 1942, merupakan batu-batu kerikil yang dipersembahkan rakyat Gorontalo dalam batas-batas kemampuannya dalam pembangunan Republik Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945.
Jiwa patriotik tersebut muncul dan tumbuh terus pada masa kekuasaan Jepang, serta terus dibina dan diwariskan kepada generasi sekarang.
Monemen Nani Wartabone dibangun untuk menghomati jasa Pahlawanan Perintis Kemerdekaan Nani Wartabone, asal Gorontalo, dan mengingatkan masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah 23 Januari 1942, dengan harapan hasil perjuangan itu akan tumbuh dalam jiwa generasi sesudahnya untuk membangun Indonesia tercinta ini dalam mengisi kemerdekaan.
Beliau lahir pada tanggal 30 April 1907 dan wafat tanggal 3 Januari 1996. Ayah beliau bernama Zakaria Wartabone, seorang Jogugu (semacam Camat) pada zaman Pemerintahan Belanda. Ibu beliau bernama Saerah Mooduto.
Pada Jumat, 07 November 2003 pukul 10.00 WIB Alm Haji Nani Wartabone dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Megawati Sukarnoputir bertempat di Istana Negara ditandai dengan pembacaan Surat Keppres RI Nomor 085/TK/2003, tanggal 6 November 2003.
Beliau pernah memimpin Pemerintahan Sipil di Gorontalo pasca-Hindia Belanda yang berumur 144 hari, dengan penduduk berjumlah 300 ribu orang. Wilayanya mencakup wilayah timur, Molibagu dan Kaidipang (sekarang wilayah Bolmong), dan wilayah barat, Buol dan Tolitoli (Sulteng).
Administrasi Pemrintahan Gorontalo dijalankan tanpa melakukan perubahan berarti dari struktur pemerintahan era Hindia Belanda. Apalagi dari segi personalia, hampir tidak ada kendala karena sebagaian besar pamong praja di tingkat bawah yang dipegang oleh pribumi yang loyal terhadap perjuangan tetap menjalankan fungsinya.
Danau Limboto
Di objek wisata Danau Limboto yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, yang saat ini memiliki kedalaman antara 5 hingga 8 meter ini, para pengujung atau wisatawan dapat menikmati berbagai kegiatan, antara lain, memancing, lomba berperahu, atau berenang. Selain itu, mereka juga dapat menikmati ikan bakar segar yang disediakan oleh mayarakat nelayan setempat dengan harga yang relatif murah.
Danau Limboto dari tahun ke tahun luas dan tingkat kedalamannya terus berkurang. Luas Danau Limboto pada tahun 1999 berkisar antara 1.900-3.000 ha, dengan kedalaman 2-4 meter (Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, 2000). Pada tahun 1932, luas perairan ini mencapai 7.000 ha, dengan kedalaman maksimum 30 m (Sarnita, 1996).
Dengan demikian, telah terjadi pendangkalan yang cukup cepat di perairan ini yang mencapai 38,80 cm/tahun. Penggundulan hutan di sekitar perairan tersebut tampaknya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pendangkalan yang cukup tinggi.Data kualitas air selama 1998-1999 menunjukkan bahwa suhu air permukaan Danau Limboto pada siang hari berkisar antara 29-32,50o C, sedangkan kecerahannya (“transparency”) 35-65 cm. Pada siang hari, kadar oksigen dalam air permukaan dan dalam lapisan 1 meter di bawah permukaan berturut-turut adalah 6-10,30 mg/l dan 4-7,10 mg/l. Kandungan CO 2 pada lapisan permukaan berkisar antara 0-5 mg/l, pH perairan 8,30-8,80 dan total alkalinitasnya (“alkalinity”) 55-85 mg CaCO3/l. Kadar senyawa fosfat berkisar antara 0,02-0,07 mg/l, sedang kandungan nitratnya sangat kecil (mendekati 0 mg/l), tetapi kadar nitritnya mencapai 0,30-0,90 mg/l, dan kadar bahan organiknya 30-37 mg/l. Berdasarkan kandungan fosfat, menurut klasifikasi Parma (1980), Danau Limboto termasuk perperairan yang mesotrof.
Menara Keagungan Limboto
Menara Keagungan diresmikan oleh Wakil Presiden RI Dr. Hamzah Haz, pada hari Sabtu, 20 September 2003. Nama menara ini ditetapkan berdasarkan SK Bupati Gorontalo Nomor 717 Tahun 2003 tanggal 18 September 2003 yang telah disetujui oleh DPRD Kabupaten Gorontalo. Menara ini dibangun sejak tahun 2002 dan menelan biaya Rp 8,6 miliar, dikerjakan oleh PT Gunung Garuda Indonesia dan PD Pedago Kabupaten Gorontalo.
Tinggi Menara Keagungan 65 meter, terdiri atas lima lantai, dengan rincian (dari dasar ke puncak menara):
1. Lantai I = 446,56 m2 tinggi 10 meter, auditorium 199,3 m2, selasar 212,38m2, dengan daya tampung 200 orang, dirancang untuk tempat rapat;
2. Lantai II = 352,25 m2, tinggi 14 meter, kapasitas 120 orang, dirancang sebagai tempat restauran;
3. Lantai III = 157,3 m2, tinggi 30 meter, kapasitas 40, dirancanakan sebagai tempat penjualan suvenir (toko suvenir);
4. Lantai IV = 96,96 m2, tinggi 39 meter, dengan kapasitas 20 orang;
5. Lantai V = 31,36 m2, tinggi 58 meter, kapasitas 10 orang.
6. Puncak menara setinggi 65 berbentuk kubah.
7. Lebar kaki pancang 21 meter.
Menara ini dilengkapi dengan dua lampu sorot dengan jarak jangkauan masing-masing 70 km.
Nama Pengunjung Perdana Menara Keagungan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Masing-masing telah menyetor sebesar Rp 50 juta, dan nama-nama mereka diabadikan dalam prasasti sebagai Pengunjung Perdana. Mereka adalah:
1. Hi. Abdullah Alkatiri, S.H.
2. Hi. Zainuddin Hasan, M.B.A.
3. Hi. Syamsur Yunus
4. Drs. Hi. Rusli Habibie
5. Agung Mazin, S.H.
6. Drs. Hi. Hamzah Isa, S.H.
7. Hi. Roem Kono
8. Dr. Ir. Moh. Revodi A.
9. Ir. Hi. Hamid Kuna
10. Hi. Rahmat Gobel
11. Dr. Hi. Dahlan Muda
Taluhu Barakati
Objek Wisata Taluhu Barakati terletak di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, kira-kira 3 kilometer ke arah barat dari lokasi Benteng Otanaha.
Kata Taluhu Barakati berasal dari dua kata, yaitu taluhu, yang berarti ‘air’, dan barakati yang berarti ‘berkah’ atau ‘rahmat”. Dinamakan demikian karena di sini terdapat sumber mata air yang sangat jernih, sejuk, dan menyegarkan laksana berkah yang tercurah kepada hamba Allah swt.
Konon lokasi ini dalam legenda masyarakat setempat dipercayai sebagai lokasi permandian permaisuri dan kerabat kerajaan yang ada di Batudaa.
Dewasa ini lokasi tersebut sering digunakan lokasi kegiatan pertunjukkan seni dan budaya, seperti lomba pemilihan putra-putri Gorontalo terbaik atau yang dikenal dengan nama Nou & Uti.
Pemandian Air Panas Lombongo
Objek wisata Pemandian Air Panas Lombongo atau Lombongo Hot Springsterletak di Desa Duwano, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Gorontalo, kurang lebih 17 km dari Kota Gorontalo (ibu kota provinsi). Objek wisata ini diresmikan tanggal 6 April 1989 oleh Bupati Gorontalo, Drs. P.P. Keppel. Harga tiket masuk Rp 2000 / dewasa. Di lokasi ini para pengunjung dapat menikmati perbagai atraksi kesenian yang sering dilaksanakan di tempat ini.
Di samping itu, mereka dapat menikmati hangat air di tempat pemandian (kolam renang) Lombongo yang juga sangat bermanfat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tempat ini juga menarik untuk relaks dan melepaskan segala bentuk kelelahan saat sibuk bekerja. Kolam renang yang berisi air hangat ini berukuran 500 m2 dengan kedalaman 1 hingga 2 meter.
Dari puncak Menara Keagungan para pengunjung dapat melihat panorama alam seputar Gorontalo.
Pentadio Resort
Objek wisata ini diresmikan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Drs. Jusuf Kalla pada tanggal 25 Februari 2004. Objek wisata yang dibangun dengan biaya Rp 15 miliar dengan dana APB Kabupaten Gorontalo merupakan objek wisata yang bertaraf internasional, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, serta dikelola secara profesional. Objek wisata ini terletak di Desa Pentadio, Kecamatan Telagabiru, Kabupaten Gorontalo. Lokasinya sangat menarik dan strategis karena terletak di kawasan Danau Limboto.
Fasilitas yang ada di Pentadio Resort ini, antara lain, restauran, toko suvernir, kolam renang, pondokan, sauna, air mancar, lokasi pemancingan, dan bak air panas. Di lokasi ini juga terdapat sumber air panas yang mengalir ke Danau Limboto. Di lokasi tersebut para pengunjung dapat menyaksikan semburan mata air yang cukup panas sehingga dapat digunakan untuk merebus telur hingga matang. Mereka dapat menikmati siraman air dari sumber mata air yang cukup hangat yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit.
Pantai Indah Lahilote
Pantai Indah Lahilote merupakan objek wisata pantai yang terletak di Pantai Lahilote Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, kurang lebih 6 km dari pusat Kota Gorontalo. Di pantai ini terdapat sebuah batu berbentuk tapak kaki, yakni dimitoskan sebagai tapak kaki seorang pengembara muda Gorontalo yang bernama Lahilote. Kata ini berasal dari kata botu yang bererarti batu, liyodu berarti tapak kaki. Jadi, botu liyodu adalah batu berbentuk tapak kaki.
Konon menurut mitos Gorontalo karena kasmaran terhadap seorang bidadari yang turun dari kayangan yang bernama Boyilode Hulawa, Lahilote nekad dan berhasil mencuri sayap yang berbentuk selendang dari sang putri. Mereka sempat menikah.
Namun sayang, Lahilote ditinggalkan oleh sang putri yang kembali ke kayangan. Untuk kedua kalinya Lahilote nekad menyusuli Putri Boyilode Hulawa ke kayangan.Dengan bantuan lentikan ujung rotan sakti, yang disebut Hutiya Mala, Lahilote berhasil menyusuri negeri kayangan. Setiba di negeri kayangan, Lahilote menjadi sangat binggung karena di sana ia mendapati ada tujuh bidadari yang memiliki persamaan wajah dan semuanya mengaku bernama Boyilode Hulawa. Ia sukar menentukan yang mana Boyilode Hulawa yang asli, istrinya. Berkat bantuan seekor kunang–kunang yang hinggap di sanggul dari salah satu dari ketujuh bidadari itu, maka tahulah Lahilote bahwa dialah sang putri yang dicarinya. Akan tetapi, malang nasib Lahilote karena berdasarkan undang–undang di negeri kayangan yang menyatakan bahwa siapa saja yang menjadi tua dan rambutnya beruban, ia harus dikembalikan ke dunia, karena kayangan bukan tempat dari manusia yang memiliki proses ketuaan, maka dengan terpaksa sang putri melepaskan suaminya, Lahilote, turun ke bumi dengan menggunakan rambut uban yang dirajut menjadi tali. Namun, di tengah perjalanan ke bumi, kemalangan menimpa Lahilote karena tali uban yang digunakannya putus, dan jatuhlah ia dengan deras ke bumi dalam posisi berdiri. Kaki kanannya jatuh di pantai Pohe, Kota Gorontalo, sedangkan kaki kirinya jatuh pantai Kwandang di Kabupaten Gorontalo.
Lagenda Lahilote ini sampai sekarang masih dituturkan oleh masyarakat sebagai cerita rakyat bagi generasi selanjutnya. Pantai Lahilote tetap menjadi objek wisata bagi masyarakat Gorontalo dan wisatawan mancanegara.
Benteng Oranye
Objek wisata Benteng Oranye (Orange Fortress) merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang terdapat di Kecamatan Kwandang, kurang lebih 61 km dari Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun oleh bangsa Portugis pada abad ke-17. Benteng ini berukuran panjang 40 meter, lebar 32 meter, dan tinggi 5 meter (40x32x5 meter).
Pesona Keindahan Pantai Boalemo
Kabupaten Boalemo sebagai daerah pemekaran dari wilayah Kabupaten Gorontalo, berada di pesisir Teluk Tomini. Tidak heran kalau kelima kecamatan yang ada di daerah itu memiliki panorama pantai yang cukup indah. Namun dari sekian banyak pantai itu, baru Pantai Bolihutuo yang secara resmi dijadikan tempat wisata.
Pantai Bolihutuo terdapat di Kecamatan Tilamuta, yang diresmikan dengan nama Objek Wisata Boalemo Indah. Untuk menuju lokasi pantai ini, wisatawan harus menempuh perjalanan melalui jalan trans Sulawesi, yang jaraknya sekitar 130 km dari pusat Kota Gorontalo.
Keindahan Pantai Bolihutuo, ibarat mutiara kepariwisataan yang terhampar di pesisir Teluk Tomini. Gulungan ombak yang berkejaran, terlihat memutih, dan menghias samudra yang membiru. Hamparan pasir putih yang menyelimuti kawasan sekitarnya, serta rindangnya puluhan pohon pinus menambah indahnya suasana.
Selain Pantai Bolihutuo, di Kecamatan Tilamuta terdapat gugusan pulau berpasir putih yang berada di tengah laut. Gugusan pulau di perairan Desa Lamu itu, akan dibuka menjadi kawasan khusus bagi turis asing yang ingin berjemur. Pulau lainnya yang cukup unik adalah Pulau Lahumbo atau Pulau Paniki. Keunikan pulau ini adalah terdapatnya ratusan ribu kelelawar, yang menjadikan pulau itu nampak hitam di kejauhan.
Tempat yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Taman Laut Pulau Batila. Taman Laut yang ada di Kecamatan Paguat itu, memiliki keindahan terumbu karang dan beragam biota laut. Menurut penelitian para ahli pariwisata, keindahan Taman Laut Pulau Bitila dua kali lebih indah daripada keindahan Taman Laut Bunaken.
OBYEK WISATA TIRTA DANAU PERINTIS
Danau Perintis terdapat di Desa Huluduotamo Kec. Suwawa ± 11 Km dari pusat kota Gorontalo dan dapat ditempuh ± 12 menit dengan kendaraan. Obyek wisata ini merupakan danau air tawar ± 6 Ha yang memiliki nilai sejarah dibuat olh Alm. Bapak Nani Wartabone saat untuk kepentingan pengairan sawah.. Air yang mengalir ke Danau Perintis berasal dari mata air pegunungan yaitu mata air Lulahu dan mata air Poso. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu berperahu, memancing, renang dan rekreasi/perkemahan.
AIR TERJUN PERMAI TALUDAA
Air Terjun Permai Taludaa berlokasi di Desa Taludaa Kec. Bonepantai ± 65 Km dari pusat Kota Gorontalo. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Air terjun yang mempunyai ketinggian ± 42 m dan bentangan ± 15 m tersebut terdapat dalam kawasan hutan Agro Wisata seperti pohon Durian, Langsat, Nangka dan pepohonan yang rindang dengan air yang bersih dan jernih.
LAPANGAN GOLF YOSONEGORO
Terletak di Desa Yosonegoro Kecamatan Limboto Barat, di kelilingi oleh lapangan pacuan kuda. Terdapat fasilitas lapangan Golf 9 hole. Lapangan Golf Yosonegoro terletak 23 km dari pusat Kota Gorontalo
CAGAR ALAM TANGALE
Berada di Kecamatan Tibawa. Lokasi ini terdapat beraneka ragam pohon hutan tropis dan juga menjadi habitatnya fauna khas Sulawesi. Cagar alam ini berada sekitar 55 km dari pusat Kota Gorontalo
CAGAR ALAM PULAU MAS, PULAU POPAYA & PULAU RAJA
Terletak di Desa Ponelo Kecamatan Kwandang. Di tempat ini terdapat berbagai macam flora dan fauna serta taman laut yang indah setara Bunaken . Jarak dari pusat Kota Gorontalo sekitar 70 km.
ISTANA JIN
Terletak di Kota Jin (Ibu Kota Kecamatan Atinggola) berjarak ± 90 km ke arah Timur Laut dari Kota Gorontalo. Bangunan ini terdiri dari stalagtit dan stalagnit yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai Istana Jin.
PANTAI DAN PULAU MOHUPOMBI
Merupakan salah satu obyek wisata yang memiliki pesona dan daya tarik tersendiri yang terletak di Kec. Tilamuta. Salaha satu keistimewaannya adlah biota laut yang belum tersentuh oleh tangan manusia. Pulau ini dapat dicapai dengan menempuh perjalanan laut dari pantai Mohumpombi ± 30 menit
PULAU ASIANGI
Memiliki biota laut yang asri, terdapat penangkaran berbagai jenis ikan hias dan dikelilingi oleh hutan bakau dengan hamparan pasir putih. Terletak ± 3 mil dari batas pantai Kec. Tilamuta Kabupaten Boalemo
Taman Nasional Dumoga Bone
Taman ini Terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kabupaten Gorontalo (Gorontalo), dengan ketinggian antara 50-2.000 meter dari permukaan laut. Ekosistem dan formasi hutan terdiri dari hutan hujan pegunungan, hutan hujan dataran rendah, hutan lembap, dan hutan lumut.
Mengingat taman nasional ini terletak antara kawasan-kawasan Zoogeografis Asia Timur dan Australia, Sulawesi telah membiakkan fauna dengan persentase yang tinggi daripada species endemik, terutama mamalia (65%) dan burung (25%).
Khas endemik / langka
Anoa (bubalus Depressicornis), Kuskus (Phalanger Ursinus), Kera Sulawesi (Macaca Nigra Nigrecens), (Babyrousa babirusa), Musang Sulawesi (Macrogalidia Musschenbroeki), Singapuar (Tarsius Spectrum), Burung Maleo (Macrocephalon Maleo), Kelelawar Badak (Rhinolapas sp), Ular Bakau (Biogedendronphila).
Geliat ‘Sunset’ Pantai Leato Gorontalo yang Menawan,
Tetapi Belum Dikelola Secara Profesional
Gorontalo–Suara Karya Online–Gemulung ombak bergerak perlahan menghempas tepian pantai. Sejauh mata memandang terhampar samudra dengan keelokan alamnya. Di ufuk barat mentari mulai memasuki batas cakrawala. Langit dan air laut memantulkan warna kemerah-merahan. Begitulah pesona sunset di Pantai Leato.
Suasana menakjubkan di kala senja itu sangat menggugah hati manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Apabila seorang fotograper mampu mengabadikan momen itu dengan baik, tentu foto yang dihasilkan akan dikagumi orang.
Tetapi kalau sunset itu disaksikan secara langsung, tentu saja kekaguman itu akan melebihi apa yang terlihat dalam foto.
Pantai Leato terdapat di Kelurahan Leato, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Untuk mencapai lokasi pantai itu pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, dengan jarak tempuh sekitar 5 km dari pusat kota. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi, atau menggunakan angkot jurusan Leato dengan tarif Rp 1.000 per orang.
Barangkali memang sudah ditakdirkan Sang Pencipta, jika di bagian selatan Teluk Tomini ini terdapat sejumlah pantai yang indah. Dari pantai Leato hingga ke Kecamatan Bonepantai (Kabupaten Gorontalo) yang berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow, kita dapat menjumpai beberapa pantai dengan pesona yang sangat memikat.
Akan tetapi, jika dibandingkan dengan pantai lainnya, maka Pantai Leato memiliki keistimewaan tersendiri. Kalau pantai lainnya berada di bawah jurang atau jauh dari jalan, tidak demikian dengan Pantai Leato. Pantai ini terdapat di tepi jalan dengan hamparan pasir putihnya. Letak pantai ini pun cukup strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Feri dan Pelabuhan Gorontalo. Hal ini sangat mendukung untuk pengembangannya.
Menikmati pemandangan alam dan keelokan samudra di Pantai Leato, mengajak kita menyatu dengan alam. Kelembutan ombaknya memungkinkan pengunjung dapat berjalan dengan tenang di tepian pantai itu. Terkadang sejumlah perahu nelayan merapat ke pinggiran pantai. Para pengunjung dapat membeli beberapa ekor ikan, dari nelayan yang ada di atas perahu. Inilah salah satu dari sekian banyak suasana yang ditawarkan untuk wisatawan.
Sangat disayangkan, hingga kini pantai tersebut belum dikelola secara profesional. Akibatnya, wisatawan yang datang ke tempat itu belum bisa menikmati secara optimal keindahan panoramanya. Di sekitar pantai masih terlihat onggokan pasir dan sampah yang terhempas gulungan ombak. Hal ini tentu mengurangi keindahan pantai tersebut.
Padahal dengan berlakunya otonomi daerah, setiap daerah memiliki kewenangan untuk mengelola potensi daerahnya. Pemerintah daerah dapat merangkul pihak swasta yang siap menjadi investor untuk mengelola dan mengembangkan Pantai tersebut. Apabila pantai tersebut dikelola dengan baik, pada gilirannya akan memberi kontribusi bagi pembangunan di Kota Gorontalo. (Sofyan Butolo).
Objek Wisata Lain
Di samping yang telah disebutkan di atas, Provinsi Gorontalo memiliki beberapa objek wisata yang lain yang cukup menarik dan perlu dikembangkan, antara lain, Goa Ular di Kecamatan Batudaa (kira-kira 28 km dari Kota Gorontalo), Danau Perintis di Kecamatan Suwawa (18 km dari Kota Gorontalo), Taman Laut Pulau Limba di Kecamatan
Paguyaman, Pulau Bitila di Kecamatan Paguat, Pantai Pasir Putih di Kecamatan Tilamuta, Air Terjun di Kecamatan Tilamuta, Cagar Alam Panua di Keluraha
Gorontalo adalah merupakan salah satu provinsi baru yang dimekarkan sejak era Reformasi bergulir dan menumbangan Orde Baru, namun pada usianya yang masih sangat muda, Gorontalo dengan beragam kebudayaan dan adat yang belum tergali lebih detail ingin dapat berbicara banyak dalam peran dan fungsinya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai contohnya setelah Aceh terkenal dengan serambi Mekahnya maka Gorontalo memperkenalkan diri sebagai serambi Madinah. Setiap fase yang dilewati ataupun yang ditapaki oleh seseorang atau sebuah daerah tentulah tidak pernah terlepas dari sejarahnya, artinya apapun yang terjadi dan akan dilaksanakan tentunya tidak akan terlepas dari goresan dan torehan sejarah yang pernah dilaluinya, sebab sejarah membentuk kebudayaan dan kebiasaan dari suatu komunitas sosial dan bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengubah ataupun meggantinya dengan kebudayaan dari peradaban lain, meskipun jika kita mengkaji lebih dalam lagi tentulah kita akan dapat melihat penampakan akan tergusurnya kebudayaan asli dengan kebudayaan lain yang pada nota benenya sebuah daerah dapat lebih dikenal atau dapat menjadi unik jika kebudayaannya masih dapat dipertahankan, sehingga tidaklah heran jika sampai hari ini banyak program nasional ataupun program global mengenai pertukaran atau saling mempelajari antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain untuk dapat lebih memperluas khazanah pengetahuan dan pendidikan mengenai kebudayaan itu sendiri. Aktor utama dalam perkembangan kebudayaan dan tarikannya dengan sejarah adalah kelompok orang – orang muda di negeri ini.
Mengulas sejarah atau mempelajari sejarah bukanlah merupakan suatu hal yang sulit mengingat setiap kita adalah merupakan bagian dari sejarah yang sedang bergulir, meskipun kadang atau bahkan kita sering mendapat atau mengalami benturan dalam proses pembelajaran atau penggaliannya, baik itu berupa kemauan dan keinginan kita untuk lebih dapat memperluas khazanah tentang sejarah agar dapat mempertahankan dan dapat berbicara banyak didepan khalayak, maupun perangkat penunjang dalam proses penulusuran dan pendidikan yang sering kali agak kesulitan, apalagi untuk kasus daerah gorontalo yang tergolong agak sulit untuk mendapatkan ulasan sejarahnya melalui fase penelitian yang lebih kritis sebelum hari ini, paling kongkretnya kebanyakan informasi atau pengetahuan sejarah lebih banyak melalui cerita – cerita orang tua ataupun serpihan – serpihan tulisan mengenai sejarah yang belum dipatenkan atau diuji secara lebih teliti kelengkapan dan kebenarannya, meski kita semua tahu untuk belajar sejarah tentulah tidak secara utuh dapat kita pelajari. Dalam konsepnya ulasan sejarah yang kita temui sering hanya berakhir pada diskursus wacana atau sering disebut historical believe atau inventive bukan pada wacna yang sifatnya rekonstruktif atau sering kita kenal dengan historical rekonstruktif, hal ini bukanlah alamiah terjadi melainkan disebabkan adanya beberapa faktor pendukung seperti sulit ditemukan pustaka yang secara kompherensif/kritis tentang sejarah karena adanya sentralisasi keilmuan sehingga cenderung perspektif lokal kurang berkembang dan kurang diberi ruang yang lebih terhormat.
Tulisan sejarah yang rekonstruktif atau kritis bukanlah parsial ditulis secara umum atau spesifik pada satu aspek tertentu saja, namun hal inilah yang sering ditemukan dalam khazanah tulisan sejarah di negara ini, itu tentunya tidak terlepas dari kuatnya peran “institusi ilmu” dan peran negara (birokrasi) daripada “usaha kreatif keilmuan” sehingga sering terjadi pengabaian terhadap realitas kultur lokal. Beberapa tokoh sejarah Indonesia dalam kongres sejarah 1996 mengungkapkan bahwa sejarah tidak hanya merupakan rekonstruksi peristiwa masa lalu, bukan pula sekedar ingatan kolektif, tetapi adalah pantulan dari identitas komunitas yang mengalaminya, hal ini kemudian menjadikan kebudayaan menjadi salah satu faktor penting dalam merekonstruksi atau secara kritis menyelami dan mengkaji wacana sejarah lokal termasuk pada intinya adalah perspektif wacana lokal sejarah daerah Gorontalo. Dalam keilmuan sejarah setidaknya ada beberapa faktor dalam menetukan gambaran sejarah secara lebih teliti, anatara lain : 1). Ada tidaknya sumber yang cukup, 2). Pilihan dan penilaian daripada sumber yang dikumpulkan, 3). Kesanggupan untuk memberikan gambaran yang tepat berdasarkan apa yang ditemukan dalam sumber, serta 4). Peran aktor – aktor sejarah dan budaya lokal, selain itu mungkin banyak faktor lain yang bisa dijadikan sebagai pematangn gambaran kritis sejarah sesuai dengan perkembangan realitas sejarah hari ini dan esok karena berbicara mengenai sejarah tidaklah dapat dipahami secara positifistik atau berusaha mengumumkannya, karena kita berbicara dalam konteks realitas kekinian dalm menentukan identitas yang tercermin dalam kehidupan masyarakat.
2. Pengantar Perspektif Lokal keGorontaloan
Sejarah yang bukanlah merupakan rekonstruksi peristiwa masa lalu ataupun ingatan kolektif, serta pengaruh kuat dari institusi keilmuan dan negara dalam hal ini birokrasi, tentunya untuk bangunan perspektif lokal sampai hari ini belum mendapatkan tempat yang cukup terhormat dalam wacana kebangsaan ketimbang sebagai contoh wacana perpolitikan Pemilu Presiden, tentulah tidak banyak yang dapat dikontekstualisasikan ataupun meski hanya untuk dapat diceritakan, namun ini bukanlah menjadi sebagai boomerang atau penghambat dalam berbagai upaya kritis, karena kita masih memiliki khazanah kearifan lokal dan juga pancaran identitas kebudayaan sebagai perangkat penting untuk analisa sejarah yang bisa diteliti untuk perkembangan dan kemajuannya. Untuk kasus Gorontalo setidaknya kita masih memiliki banyak aktor lokal yang tulisannya cukup menggambarkan realitas sejarah secara kritis, seperti diantaranya S.R Nur, Kaluku, Alim Niode, atau yang paling terkini akan mengeluarkan tulisannya tentang sejarah pada desember 2004 ini yaitu Basri Amin. Dari berbagai dokumen tulisan sejarah yang diteliti oleh beberapa contoh tokoh diatas, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kemudian dikaji lebih dalam lagi, seperti :
1). Sketsa Geografis dan Demografis
Luas daerah Provinsi Gorontalo adalah 11.096,15 Km2 sesuai data tahun 1992 dan ditengah daerah gorontalo terbentang dataran rendah yang dikelilingi oleh pegunungan, sehingga tampaknya seperti dipagari pegunungan. Danau Limboto terdapat didataran rendah yang sebagian masuk wilayah Kotamadya Gorontalo dan lainya masuk wilayah Kabupaten Gorontalo, luas danau ini sekitar 35 km2 yang merupakan penghasil ikan tawar utama untuk kedua daerah Gorontalo tersebut, seperti akan mujair, ikan gabus, udang, belut dan lain – lain, namun danau tersebut makin lama makin dangkal karena disebabkan oleh erosi didaerah sekitar dan sampai hari ini belum ada upaya jelas untuk melakukan pengerukan demi tetap menjaga kelestarian salah satu aset sejarah dan penghasilan masyarakat pinggiran danau yang sehari – harinya mengadu nasib sebagai nelayan. Sungai – sungai di Gorontalo pada umumnya mengalir keselatan. Ada sembilan sungai yang tergolong agak besar/ sungai – sungai tersebut masing – masing :
1. Sungai Bone ( bermuara di Kotamadya Gorontalo )
2. Sungai Bolango ( bermuara di Kotamadya Gorntalo )
3. Sungai Paguyaman ( di Kecamatan Paguyaman )
4. Sungai Randangan ( di Kecamatan Marisa )
5. Sungai Taludaa ( di Kecamatan Bone Pantai )
6. Sungai Popayato ( di Kecamatan Popayato )
7. Sungai Molosipat ( di Kecamatan Popayato )
8. Sungai Atinggola ( di Kecamatan Atinggola ) mengalir ke utara
Sungai Tolinggula ( di Kecamatan Sumalata ) mengalir ke utara.
2). Terminologi kata Gorontalo
Asal usul penyebutan nama Gorontalo dari berbagai sumber meskipun terdapat berbagai pendapat dan penjelasan :
1. Berasal dari Hulonthalangi, nama salah satu kerajaan yang kemudian disingkat menjadi Hulonthalo.
2. Hulontalangi berasal dari Huo lolonthalango artinya orang Gowa yang berjalan kian kemari
3. Hulutalangi yang berarti lebih mulia.
4. Hulua lo tola artinya tempat pembiakan ikan kabos ( gabus ).
5. Pogolatalo atau Pohulotalo artinya tempat menunggu.
6. Gorontalo, nama salah seorang kemanakan raja Tidore.
7. Gunung Telu, dari ucapan orang Gowa, apabila mereka hendak memasuki pelabuhan Gorontalo terlihat dari jauh adanya 3 buah gunung menonjol.
8. Meningatkan perpindahan penduduk dari tempat yang tinggi berbukit – bukit (hunto) kesuatu tempat yamg senatiasa digenangi air (langit – langit).
Jadi asal usul nama Gorontalo tidak diketahui pasti oleh orang – orang bila dikutip dari mana. Yang jelas bahwa Hulonthalo masih tetap hidup dan tumbuh dalam setiap jiwa dan kalbu orang Gorontalo karena meski berada dimanapun tapi ketika menggunakan bahasa daerah Gorontalo maka akan tetap terucap dan teringat kata “Hulonthalo” bagaikan hidup ditengah orang – orang yang sering menggunakan dan menjiwai Gorontalo sebagai pedoman dan konsep bermasyarakat meskipun dia berada dimanapun dengan sifat – sifat yang terus dipertahankan sejak masyarakat adat Gorontalo sejak zaman dulu kala.
3). Politik Pemerintahan
Sumber – sumber dan literaur –literatur tentang sejarah Gorontalo di dapat bahwa sebelum masa penjajahan Belanda keadaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan – kerajaan yang di atu menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan – kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut “ pohalaa “. Beberapa literatur menyebutkan di Daerah Gorontalo terdapat lima pohalaa, yaitu :
- Pohalaa Gorontalo
- Pohalaa Limboto
- Pohalaa Bone ( termasuk Suwawa dan Bintauna )
- Pohalaa Bolango, tahun 1862 diganti Boalemo
- Pohalaa Atinggola
Raja – raja dari pohalaa – pohalaa tersebut ditentukan oleh baate – baate ( pemangku adat ) menurut garis keturunan, tetapi pada masa penjajahan Belanda baate – baate hanya mencalonkan dan yang memutuskan adalah pemerintah hindia Belanda.
Struktur masyarakat hukum didaerah Gorontalo tersusun dari bawah ke atas yaitu : Linula, Lipu atau Kerajaan dan Pohalaa ( serkat kerajaan – kerajaan ). Sementara itu pemerintahanya bersifat monarkhi – konstitusional, yang pada awalnya pembentukkan kerajaan – kerajaan tersebut berakar pada kekuasaan rakyat yang menjelmakan diri dalm kekuasaan Linula. Jadi sistem pemerintahan sesungguhnya menurunkan azas demokrasi.
Sebelum terbentuknya Linula, struktur masyarakatsuku bangsa Gorontalo terdiri dari keluarga batih ( nuclear familih ) yang disebut ngalaa. Ngalaa tinggal pada petak – petak ( lalaa ) di sebuah rumah yang disebut laihe, dari laihe inilah kemudian muncul sistem kepemimpinan yang dijabat oleh pulu – laihe ( inti rumah ). Sementara itu perkembanganya selanjutnya menunjukkan kemajuan dimana beberapa linula karena merasa terikat atas hubungan darah, daerah, tempat tinggal serta kepentingan yang sama bergabung menjadi satu kesatuan sosial yang lebih besar lagi yang disebut lipu (negeri), suatu struktur masyarakat hukum yang disamakan dengan kerajaan.
4). Beberapa Contoh Kebudayaan Lokal
Terlepas dari sejarah sistim kepemerintahan Gorontalo yang penuh dengan konflik, terdapat bangunan – bangunan struktur kepribadian yang terbina dalam komunitas masyarakat adat Gorontalo. Sebut saja misalkan penghormatan kepada seseoran bagi orang Gorontalo lebih banyak ditentukan oleh kesopanan dan kerendahan diri. Hal ini kemudian terkandungdalam banyak perilaku bermasyarakat di Gorontalo, contohnya bila dua orang mempelai sedang duduk bersanding, mereka memperoleh nasehat tentang pentingnya kesopanan biasanya disampaikan dalam bentuk sajak yang disebut “ pale bohu “ dalam bahasa Gorontalo isinya berupa nasihat dan falsafah hidup berumah tangga, yang antara lain berbunyi :
Wonu motiti woyoto luntua lo wolipopo
(kalau merendahkan diri dihinggapi kunag – kunang)
wonu motiti wanggango diila tumuhu tumango
(kalau menyombongkan diri tidak berbuah tidak bercabang)
salah satu ciri sifat orang Gorontalo juga yang dimenifestasikan dalam kata – kata adalah sifat gotong royong, bagian – bagiannya seperti :
- Ambu : Tolong menolong antar sekolompok orang untuk kepenting bersama.
- Hileia : Tolong menolong bila ada yang kedukaan.
- Huyula : Tolong menolong yang hampir sama dengan ambu, namun pada huyula biasanya lebih banyak orang yang terlibat.
- Tiayo : Tolong menolong antara sekelompok orang untuk mengerjakan pekerjaan seseorang.
Sifat musyawarah juga tercermin dalam praktek kehidupan sehari –hari, suatu masalah yang ingin dipecahkan untuk kepentingan bersama selalu dimusyawarahkan, biasanya melalui dua tahapan musyawarah. Pada tingkat pertama biasa disebut dengan “duulohupa“ ( musyawarahinformil ), bila duulohupa berhasil maka pembicaraan ditingkatkan pada apa yang disebut dengan “heeluma” ( persesuaian pendapat ).
Salah satu sifat yang sangat mengental juga pada masyarakat Gorontalo adalh sifat suka marantau. Tingginya penghargaan pada orang yang suka merantau terlihat pada, jika seseorang yang akan berpergian ( mobite ) maka keluarga dan handai tolan yang mengetahuinya akan berduyun – berduyun datang untuk melepas (mobilohu tau mobite), demikian pula bila seseorang tiba dari perantauan.
Bermacam ragam sifat – sifat orang Gorontalo yang sangat mendalam dan mengandung makna berfilosofi tinggi tidaklah akan cukup untuk dipaparkan dalm uraian ini , namun kiranya secarik gambaran kecil tentang sifat, perilaku, struktur dan sistim bermasyarakat Gorontalo akan kembali memberikan penyegaran agar tetap mendapat perhatian yang intens dari yang berkaitan erat komunitas sosial masyarakat Gorontalo, atau dengan kata lain akan ada kembali pemurnian terhadap apa yang telah diracik dan dibangun oleh masyarakat adat Gorontalo yang patut dijunjung tinggi atau bukan hanya dijadikan sebagai sketsa refleksi melainkan dikreasikan sebagai aksi hari ini demi mendapatkan sekilas gambaran proyeksi masa akan datang.
Selain beberapa gambaran diatas, ada beberapa hal yang kiranya dapat ditambahkan sebagai pengetahuan akan khazanah sejarah kebudayaan Gorontalo, seperti masyarakat Gorontalo sebelum mayoritas beragama Islam mempunyai tradisi kepercayaan yang disebut dengan Hali Pulu dan mempunyai berbagai permainan seperti “Podayango, Biskedo dan Molangga”, yang kemudian mengalami perubahan sejak Sultan Amai menjadi Raja, beliau mencintai seorang putrid dari Raja Ternate yang barnama Putri Ohutango, sehingga yang oleh karena itu maka Raja Ternatelah yang mengIslamkan Sultan Amai sebagai syarat untuk menikahi putrinya, namun kemudian yang menetapkan Islam sebagai Agama Gorontalo secara resmi nanti pada zaman Sultan Motolodulakiki, tapi Islam dapat perkembang pesat pad zaman pemerintahan Raja Eyato pada tahun 1673.
Gambaran awal dan singkat mengenai Sejarah dan Kebudayaan daerah Gorontalo tentunya dapat dan sangat diharapkan untuk menjadi perhatian serius bagi setiap generasi, terutama yang menamakan dirinya kelompok intelektual muda “mahasiswa” agar bisa disdari dan dipertanggungjawabkan dalam kontekstualisasi wacana serta pengembangan penelitian lebih lanjut
Budaya Gorontalo diyakini sudah berkembang sejak berabad-abad lamanya. Namun puncak dari perkembangan itu dimulai sejak tahun 1385 masehi, dimana pada masa itu 17 kerajaan kecil atau linula bersepakat membentuk sebuah serikat kerajaan. Namun dari empat raja tersebut kata pemerhati Budaya Gorontalo, Alim Niode yang terpilih dan diangkat menjadi maharaja adalah Ilahudu untuk memimpin serikat kerajaan yang disebut dengan kerajaan Hulondhalo. Alim mengatakan, sejak saat itu, masyarakat Gorontalo terus mencipta beragam kebudayaan yang sampai dengan saat ini tetap terpelihara. Pada masa itu refleksi demokrasi di Gorontalo didasarkan pada refleksi alam sehingga itu jarah kebudayaan Gorontalo disebut sebagai adati asali.
Nilai budaya Gorontalo yang mengaliri wujud kebudayaan Gorontalo sejak awal berbasiskan pandangan harmoni dengan mengambil pelajaran yang ditunjukan oleh alam. Sementara itu kebudayaan Islam masuk ke Gorontalo pada tahun 1525 masehi melalui ternate dan kerajaan hulondhalo yang terdiri dari 17 kerajaan kecil pada saat itu masih menganut kepercayaan animisme. Hulondhalo yang dipimpin Sultan AMAY, membawa agama Islam masuk ke Gorontalo dan menjadikannya sebagai agama kerajaan di Gorontalo pada waktu itu. Pengaruh agama islam itu karena Sultan Amay memiliki kedekatan dengan kerajaan Palasa di Sulawesi Tengah sehingga ia membawa ajaran islam ke Gorontalo sekaligus menikahi putri negeri palasa sebagai permaisurinya. Jelaslah kata Alim, filasafat budaya Gorontalo yang dilandaskan pada Adat bersendi syara berbeda dengan yang di Padang terutama dalam proses terjadinya asimilisasi kebudayaan Islam dengan masyarakat Gorontalo pada masa lampau. Gagasan tata per-adatan Gorontalo dan kebudayaan yang sebelumnya dilandaskan pada harmonisasi alam kemudian dipadukan dengan ajaran agama oleh raja Eyato kemudian lebih dipertegas dengan adat bersendi syara dan syara bersindikan Al-Quran sebagai pedoman masyarakat Gorontalo yang sudah bercirikan keislaman. filsafat adat Gorontalo mulai dari adati asali, adat bersendi syara, dan kemudian disempurnakan menjadi syara bersendikan kitabullah ungkap Alim, ternyata merupakan perpaduan yang sangat harmonis dalam menuntun masyarakat Gorontalo dalam menciptakan berbagai kebudayaan yang sampai hari ini masih tetap eksis dan mewarnai kehidupan masyarakat Gorontalo. Sdr, sekikan varia budaya Produksi Radio Republik Indonesia Gorontalo, atas nama kerabat kerja yang bertugas kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan kebersamaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)