Sejarah Berdirinya Provinsi Gorontalo
Menurut sejarah, Jazirah
Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu
kota tua di Sulawesi selain Kota Makassar, Pare-pare dan Manado.
Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam
di Indonesia Timur yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone.Seiring dengan
penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan
perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow
(Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai
ke Sulawesi Tenggara.
Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan
perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini
(bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota
Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga
sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada
tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke
Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian
dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe Kerajaan ini dipindahkan dari
Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak
antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.
Dengan
letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan
serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada
wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan
Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo
dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang
Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo
berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut huukm adat etatanegaraan
Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan
kekeluargaan yang disebut "Pohala'a".Menurut Haga (1931) daerah
Gorontalo ada lima pohala'a :
* Pohala'a Gorontalo
* Pohala'a Limboto
* Pohala'a Suwawa
* Pohala'a Boalemo
* Pohala'a Atinggola
Dengan
hukum adat itu maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia
Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol diantara kelima
pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal.
Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
* "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo.
* Berasal dari " Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
* Berasal dari " Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
* Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
* Berasal dari " Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
* Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
* Berasal dari " Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air
Jadi
asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun
jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang
Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya
diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada
tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang
asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889
sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang
dikenal dengan istilah " Rechtatreeks Bestur ". Pada tahun 1911 terjadi
lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi
atas tiga Onder Afdeling yaitu :
* Onder Afdeling Kwandang
* Onder Afdeling Boalemo
* Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
* Distrik Kwandang
* Distrik Limboto
* Distrik Bone
* Distrik Gorontalo
* Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
* Afdeling Gorontalo
* Afdeling Boalemo
* Afdeling Buol
Sebelum
kemerdekaan Republik , rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk. H. Nani
Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama
kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo
berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi
tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi
bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani
Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis
kemerdekaan.
Hari Kemerdekaan Gorontalo " yaitu 23 Januari 1942
dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya.
Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum
nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan
menjadi bagian dari Indonesia
Selain itu pada saat pergolakan PRRI
Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya
berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan
semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah
didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia
Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
Budaya Daerah Gorontalo
Budaya
dalam suatu masyarakat etnis tertentu merupakan akal budi, pikiran
manusia, cipta karsa, dan hasil karya yang diciptakan oleh kelompok
masyarakat etnis tersebut. Dengan adanya budaya, masyarakat dapat
menetukan hukum-hukum yang berlaku di suatu kelompok yang merupakan
nilai moral suatu entnis tertentu yang akhirnya menjadi
kebiasaan-kebiasaan entis atau suku tertentu, termasuk juga budaya adat
istiadat daerah Gorontalo.
Gorontalo adalah ibu kota dari sebuah
provinsi di bagian utara Sulawesi dengan nama yang sama, Provinsi
Gorontalo. Ini adalah sebuah kota yang mewarisi keindahan budaya nenek
moyang yang begitu mempesona.
Namun membahas tentang budaya atau
kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat daerah Gorontalo saat ini tentu
telah ada banyak perubahan dan pergeseran mengikuti perkembangan jaman,
dibandingkan pada jaman dahulu dimana masing-masing individu masih
mempertahankan nilai-nilai leluhur yang berlaku didalam masyarakat.
Namun demikian saat ini masih ada kebiasaan-kebiasaan hidup dalam
masyarakat yang terus dipelihara dan masih berlaku dalam kehidupan
sehari-hari, termasuk tentang adat perkawinan dan kesenian derah
Gorontalo.
Sistem kekerabatan masyarakat gorontalo yang beraneka
ragan profesi dan tingkat sosial tidak menjadi penghalang untuk tetap
hidup dalam suasana kekeluargaan. Dan itu menjadi salah satu hal utama
mengapa masyarakat gorontalo selalu hidup rukun dan tidak pernah terjadi
bentrok atau konflik yang berskala besar. Sistem kemasyarakatan yang
terus terpelihara dan berjalan dengan baik hingga saat ini adalah hidup
bergotong-royong dan menyelesaikan masalah atau persoalan secara
bersama-sama, musyawarah dan mufakat.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
permasalahan yang akan dibahas dalam proses penyususnan makalah ini
secara umum mengenai masalah “Kebudayaan Gorontalo”. Untuk memberikan
makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam penyususnan
makalah ini masalahnya dibatasi pada :
1.2.1 Bagaimana tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo ?
1.2.2 Apa saja kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo ?
1.2.3 Bagaimana keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Pada
dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dalam penyususnan makalah
ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi.
Adapun tujuan khusus dari penyususnan makalah ini adalah :
1.3.1 Ingin mengetahui tahapan upacara pernikahan adat Gorontalo
1.3.2 Ingin mengetahui kebudayaan yang dimiliki oleh daerah Gorontalo
1.3.3 Ingin mengetahui keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat
yang akan diperoleh dari penulisan makalah ini yaitu kita semua dapat
memahami dan mengamalkan serta dapat mempertahankan dan melestarikan
adat istiadat budaya daerah Gorontalo agar tidak terkikis oleh jaman dan
tidak terpengaruh kebudayaan masyarakat lain serta tidak terpengaruh
pula oleh budaya kebarat-baratan atau westerisasi.
1.5 Metode Penulisan
Dalam
proses penyususnan makalah ini menggunakan metode heuristic. Metode
heuristic yaitu proses pencarian dan pengumpulan sumber-sumber dalam
melakukan kegiatan penelitian. Metode ini dipilih karena pada hakekatnya
sesuai dengan kegiatan dan penulisan teknik pendekatan dalam proses
penyusunannya.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yang selanjutnya dijabarkan sebagai berikut:
Bagian
kesatu adalah pendahulua. Dalam bagian ini penyusun memaparkan beberapa
pokok permasalahan awal yang berhubungan erat dengan permasalahan
utama. Pada bagian pendahuluan ini dipaparkan tentang latar belakang
masalah batasan, dan rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, manfaat
penulisan makalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bagian
kedua yaitu pembahasan. Pada bagian ini merupakan bagian utama yang
hendak dikaji dalam proses penyusunan makalah. Penulis berusaha
mendeskripsikan berbagai temuan yang berhasil ditemukan dari hasil
pencarian sumber / bahan.
Bagian ketiga yaitu kesimpilan dan saran.
Pada kesempatan ini Penulis berusaha mengemukakan terhadap semua
permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh penulis dalam perumusan
masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengantar
Upacara
perkawinan adat gotontalo berlangsung di dua tempat yaitu di tempat
mempelai pria dan wanita, masing masing keluarga mempelai mengadakan
pesta dirumah masing-masing. Dalam pesta tersebut selalu berlangsung
meriah hingga berhari hari lamanya.
Beberapa hari sebelum pesta
dilangsungkan semua keluarga dan kerabat telah datang berkumpul untuk
membantu pelaksanaan pesta tersebut, baik ibu-ibu maupun bapak bapak
selalu datang beramai- ramai.
Dalam pesta itu mempelai pria dan
wanita menggunakan pakaian adat Bili’u dengan tempat pelaminan yang juga
dihias menggunakan adat Gorontalo. Pesta yang berlangsung biasanya 3
hari itu dengan masing masing mempunyai sebutan setiap hari yang
berbeda.
Pernikahan Adat Gorontalo ini perlu di lestarikan, karena
mengandung nilai–nilai budaya yang tinggi. Adat Gorontalo ini semakin
hari semakin terkontaminasi dengan perubahan zaman. Terlihat dimana–mana
pernikahan di Gorontalo tanpa melewati lagi prosesi adat gorontalo. Hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya, banyak pemuda zaman
sekarang yang enggan mempelajari adat pernikahan gorontalo. Sehingga
warisan leluhur ini semakin terlupakan, karena tidak adanya regenerasi
penerus Adati lo Hulondhalo.
Pernikahan Adat Gorontalo memiliki ciri
khas tersendiri. Karena penduduk Provinsi Gorontalo memiliki penduduk
yang hampir seluruhnya memeluk agama Islam, sudah tentu adat istiadatnya
sangat menjunjung tinggi kaidah-kaidah Islam. Untuk itu ada semboyan
yang selalu dipegang oleh masyarakat Gorontalo yaitu, “Adati hula hula
Sareati, Sareati hula hula to Kitabullah” yang artinya, Adat Bersendikan
Syara, Syara Bersendikan Kitabullah. Pengaruh Islam menjadi hukum tidak
tertulis di Gorontalo sehingga mengatur segala kehidupan masyarakatnya
dengan bersendikan Islam. Termasuk adat pernikahan di Gorontalo yang
sangat bernuansa Islami. Prosesi pernikahan dilaksanakan menurut Upacara
adat yang sesuai tahapan atau Lenggota Lo Nikah
2.2 Tahapan Upacara Pernikahan Adat Gorontalo
Berikut
akan diuraiakan tahapan pernikahan adat gorontalo sesuai dengan
Lenggota Lo Nikah atau tata urutan adat pernikahan daerah Gorontalo.
2.2.1 Mopoloduwo Rahasia
Mopoloduwo
rahasia yaitu dimana orang tua dari pria mendatangi kediaman orang tua
sang wanita untuk memperoleh restu pernikahan anak mereka. Apabila
keduanya menyetujui, maka ditentukan waktu untuk melangsungkan
peminangan atau Tolobalango.
2.2.2 Tolobalango
Tolobalango adalah
peminangan secara resmi yang dihadiri oleh pemangku adat Pembesar Negeri
dan keluarga melalui juru bicara pihak keluarga pria atau Lundthu
Dulango Layio dan juru bicara utusan keluarga wanita atau Lundthu
Dulango Walato, Penyampaian maksud peminangan dilantunkan melalui
pantun-pantun yang indah. Dalam Peminangan Adat Gorontalo tidak
menyebutkan biaya pernikahan (Tonelo) oleh pihak utusan keluarga calon
pengantin pria, namun yang terpenting mengungkapkan Mahar atau Maharu
dan penyampaian acara yang akan dilaksanakan selanjutnya.
2.2.3 Depito Dutu
Pada
waktu yang telah disepakati dalam acara Tolobalango maka prosesi
selanjutnya adalah mengantar harta atau antar mahar, didaerah gorontalo
disebut Depito Dutu yang terdiri dari 1 paket mahar, sebuah paket
lengkap kosmetik tradisional Gorontalo dan kosmetik modern, ditambah
seperangkat busana pengantin wanita, serta bermacam buah-buahan dan
bumbu dapur atau dilonggato.
Semua mahar ini dimuat dalam sebuah
kendaraan yang didekorasi menyerupai perahu yang disebut Kola–Kola.
Arak-arakan hantaran ini dibawa dari rumah Yiladiya (kediaman/ rumah
raja) calon pengantin pria menuju rumah Yiladiya pengantin wanita
diringi dengan gendering adat dan kelompok Tinilo diiringi tabuhan
rebana melantunkan lagu tradisional Gorontalo yang sudah turun temurun,
yang berisi sanjungan, himbauan dan doa keselamatan dalam hidup berumah
tangga dunia dan akhirat.
2.2.4 Mopotilandahu
Pada malam sehari
sebelum Akad Nikah digelar serangkaian acara malam pertunangan atau
Mopotilandahu. Acara ini diawali dengan Khatam Qur’an, proses in
bermakna bahwa calon mempelai wanita telah menamatkan atau menyelesaikan
mengajinya dengan membaca ‘Wadhuha’ sampai Surat Lahab. Dilanjutkan
dengan Molapi Saronde yaitu tarian yang dibawakan oleh calon mempelai
pria dan ayah atau wali laki-laki. Tarian ini menggunakan sehelai
selendang. Ayah dan calon mempelai pria secara bergantian menarikannya,
sedangkan sang calon mempelai wanita memperhatikan dari kejauhan atau
dari kamar.
Bagi calon mempelai pria ini merupakan sarana menengok
atau mengintip calon istrinya, istilah daerah Gorontalo di sebut Molile
Huali. Dengan tarian ini calon mempelai pria mecuri-curi pandang untuk
melihat calonnya. Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana
diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa
Arab yang juga merupakan lantunan doa-doa untuk keselamatan.
Lalu
sang calon mempelai wanita ditemani pendamping menampilkan tarian
tradisional Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Tarian ini menggambarkan
keberanian dan keyakinan menghadapi badai yang akan terjadi kelak bila
berumah tangga. Usai menarikan Tarian Tidi, calon mempelai wanita duduk
kembali ke pelaminan dan calon mempelai pria dan rombongan pemangku adat
beserta keluarga kembali ke rumahnya.
2.2.5 Tari Saronde
TARI
Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tarian
ini dilakukan di halaman calon mempelai wanita. Tentu penarinya adalah
calon mempelai laki-laki bersama orang tua atau walinya. Ini adalah cara
orang Gorontalo menjenguk atau mengintip calon pasangan hidupnya.
Dalam
bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang berarti
menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian prosesi
adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama ayah
atau wali. Mereka menari dengan selendang.
Sementara calon mempelai
wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan pujaan hatinya dari
dalam. Menampakkan sedikit dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa
ia mendapat perhatian. Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri
pandang ke arah calon mempelai wanita.
Tari Saronde dipengaruhi
secara kuat oleh agama Islam. Tarian ini dimulai dengan pemukulan
rebana, alat musik pukul berbentuk bundar. Lirik lagu adalah syair-syair
pujian terhadap Tuhan dan doa memohon keselamatan dalam bahasa Arab.
2.2.6 Akad Nikah
Keesokan
harinya Pemangku Adat melaksanakan Akad Nikah, sebagai acara puncak
dimana kedua mempelai akan disatukan dalan ikatan pernikahan yang sah
menurut Syariat Islam. Dengan cara setengah berjongkok mempelai pria dan
penghulu mengikrarkan Ijab Kabul dan mas kawin yang telah disepakati
kedua belah pihak keluarga. Acara ini selanjutnya ditutup dengan doa
sebagai tanda syukur atas kelancaran acara penikahan ini.
2.2.7 Pakaian Adat Gorontalo
Gorontalo
memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan,
khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang
lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut
Bili’u atau Paluawala. Pakaian adat ini umumnya dikenal terdiri atas
tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.
2.2.8 Nuansa Warna Bagi Masyarakat Gorontalo
Dalam
adat istiadat gorontalo , setiap warna memiliki makna atau lambang
tertentu, karena itu dalam upacara pernikahan masyarakat gorontalo hanya
menggunakan empat warna utama , yaitu merah ,hijau , kuning emas , dan
ungu. Warna merah dalam masyarakat gorontalo bermakna keberanian dan
tanggung jawab , hijau bermakna Kesuburan, kesehjateraan , kedamaian dan
kerukunan, kuning emas bermakna kemulian, kesetiaan ,kesabaran dan
kejujuran sedangkan warna ungu bermakna keanggunan dan kewibawaan.
Pada
umumnya masyarakat Gorontalo enggan memakai pakai warna coklat karena
coklat melambangkan tanah , karena itu bila mereka ingin memakai pakaian
warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna
keteguhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa , warna putih bermakna kesucian
dan kedudukan , karena itu masyarakat gorontalo lebih suka mengenakkan
warna putih bila pergi ke tempat perkebungan atau kedukaan atau tempat
ibadah (masjid), biru muda sering digunakan pada saat peringatan 40 hari
duka,sedangkan biru tua digunakan pada peringatan 100 hari duka.
Dalam
adat perkawinan Gorontalo sebelum hari H dilaksanakan dutu, dimana
kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan
buah-buahan , seperti jeruk , nangka ,nenas , tebu , setiap buah yang
dibawah juga punya makna tersendiri misalnya buah jeruk berkmakna bahwa
pengantin harus merendahkan diri, duri jeruk bermkana bahwa pengantin
harus menjaga diri dan rasanya yang manis bermakna bahwa pengantin harus
menjaga tata krama atau sifat manis yang disukai orang .nenas durinya
juga bermakna bahwa pengantin harus menjaga diri dan begitu juga rasanya
yang manis.nangka dalam bahasa gorontalo langge loo olooto , yang
berbau harum dan berwarna kuning emas yang bermakna pengantin harus
mempunyai sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning
bermakna pengantin harus menjadi orang yang disukai dan teguh dalam
pendirian.
2.3 Kesenian Daerah
Gorontalo sebagai salah satu suku
yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik
tari, lagu, rumah adat, dan pakaian adat.
2.3.1 Tarian
Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
2.3.2 Lagu-lagu daerah Gorontalo
Lagu-lagu
daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah
Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko (nama orang),
Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo
Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).
2.3.3 Rumah Adat
Seperti
halnya daerah lain di Indonesia, orang Gorontalo memiliki rumah adatnya
sendiri, yang disebut Bandayo Poboide. Rumah adat ini terletak di tepat
di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto.
Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memiliki rumah adat yang lain,
yang disebut Dulohupa, yang terletak di di Kelurahan Limba U2, Kecamatan
Kota Selatan, Kota Gorontalo. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat
bermusyawarat kerabat kerajaan pada masa lampau.
Dulohupa merupakan
rumah panggung yang terbuat dari papan, dengan bentuk atap khas daerah
Gorontalo. Pada bagian belakang ada ajungan tempat para raja dan kerabat
istana untuk beristirahat atau bersantai sambil melihat kegiatan remaja
istana bermain sepak raga
Rumah adat dengan seluas tanah kurang
lebih lima ratus ini dilengkapi dengan taman bunga , serta bangunan
tempat penjualan sovenir, dan ada sebuah bangunan garasi bendi kerajaan
yang bernama Talanggeda.
Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat
ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para
pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu
Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum
Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).
2.3.4 Bahasa Daerah
Orang
Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek,
dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang
paling dominan adalah dialek Gorontalo.Penarikan garis keturunan yang
berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu.
Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku
taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara
laki-laki ayah dan ibu.
Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang
mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari
langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila. Dia menikah dengan
pendatang yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Mereka inilah yang
kemudian menurunkan orang Gorontalo. Sebutan Hulontalangi kemudian
berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.
2.3.5 Tujuh bulanan atau dalam bahasa Gorontalo Tondhalo
Tondhalo
ini dilaksanakan pada usia kandungan 7 bulan, dilaksanakan pada pagi
hari dan pesta yang meriah dan tentu sangat berbeda dengan upacara tujuh
bulan pada umumnya. Baik si ibu jabang bayi maupun suami sama sama
menggunakan pakaian adat dan menyertakan seorang anak perempuan kecil
yang diusung oleh sang suami berkeliling rumah sebelum masuk kekamar
menjumpai si ibu jabang bayi untuk memutus tali yang melingkar di perut
yang terbuat dari daun kelapa.
Dalam upacara ini disediakan berbagai
jenis makanan yang dihidangkan diatas 7 buah baki, kemudian makanan
tersebut dibagi bagikan kepada para undangan termasuk anak perempuan
kecil yang diusung oleh sang suami calon ayah dari jabang bayi.
2.3.6 A q i q a h
Upacara
aqiqah biasanya dilaksanakan 1 bulan atau 40 hari usia anak yang baru
dilahirkan, namun ada sebagian masyarakat yang melaksanakan aqiqah lebih
awal bahkan ada yang lebih dari 40 hari bergantung kepada kemampuan
orang tua si anak.
Upacara aqiqah untuk suku Gorontalo tentu berbeda dengan yang dilaksanakan pada umumnya.
Pada
jaman dulu para orang tua melaksanakan upacara aqiqah itu pada 7 hari
setelah anak dilahirkan, yang disertai dengan upacara naik ayunan atau
yang disebut buye buye. Pada upacara ini sekaligus dilaksanakan sunat
bagi anak perempuan.
2.3.7 Khitanan dan Beat
Meskipun kemajuan
teknologi telah merambah ke suluruh pelosok Gorontalo, namun adat
istiadat yang telah ada sejak jaman nenek moyang tetap terpelihara
dengan baik, bebagai upacara adat masih tetap dilaksanakan, misalnya
upacara Khitanan bagi anak laki-laki dan Beat bagi anak perempuan. Dalam
upacara ini masih ada sebagaian masyarakat yang menggunakan alat
tradisional untuk mengkhitan anak laki-laki. Namun seiring dengan
kemajuan teknologi dan mengurangi resiko yang dapat berakibat fatal maka
saat ini telah terjadi pergeseran dengan menggunakan alat yang lebih
modern dengan menggunakan tenaga dokter.
Khitanan
Khusus upacara Beat untuk anak perempuan yang telah aqil baligh,adat tersebut masih tetap dilakukan.
2.3.8 Sapaan Atau Toli
Sapaan
atau toli atau nama panggilan bagi seseorang adalah suatu kebudayaan
masyarakat gorontalo. Tata krama ini sudah ada berabad-abad lamanya .
menurut “wulito” atau cerita leluhur kebudayaan ini berkembang menjadi
“pulangga “ atau gelar kepada raja jogugu,marsaoleh,dan para pejabat
kerajaan / negri yang dinobatkan atau dinilai berilomato atau berkarya
dalam negeri bahkan apabila wafatpun raja dan pejabat-pejabat masih di
anugrahi gelar yang disebut gara’I yang juga diberikan sesuai karyanya
semasa hidupnya .
Sapaan bermakna sebagai suatu penghormatan bagi
seseorang ,selain dari pada itu sapaan atau toli bisa memper erat tali
persaudaraan atau tali kekeluargaan dengan sapaan yang manis seseorang
merasa dihargai sehingga timbul ‘ sense of belonging‘ merasa bagian
keluarga atau lingkungannya.
Nabi Muhammad SAW menyapa istri-istirnya
dengan nama pangilan yang manis dan halus .beliau menyapa aisyahra
‘humairah ‘ artinya si pipi yang merah , yaitu sapaan kesayangan buat
istri yang cantik.
Pada zaman dahulu dalam lingkungan
kerajaan-kerajaan ,sapaan-sapaan terjaga dengan sangat baik dalam
lingkungan ini hamper tidak terdengar panggilan nama asli/kecil
seseorang . menyapa raja dan pejabat-pejabat Ti Olangia , Ti Jogugu ,Ti
Wulea ,atau sapaan ti Eyanggu . sapaan untuk ratu , permaisuri atau
istri-istri pejabat Ti Mbui , Ti Boki, Putra-Putri dan cucu Bantha , Te
tapulu ,Te Putiri , Te Uti , Ti Pii dan sebagainya. sebaliknya keluarga
dan para putra-putri pegawai kerajaan dengan nama jabatan masing-masing
sampai pangkat yang paling rendah sekalipun tak menyebut nama kecil.
2.3.9 Tumbilotohe
Tumbilotohe
yang dalam arti bahasa gorontalo terdiri dari kata “tumbilo” berarti
pasang dan kata “tohe” berarti lampu, yaitu acara menyalakan lampu atau
malam pasang lampu. Tradisi ini merupakan tanda bakal berakhirnya bulan
suci Ramadhan, telah memberikan inspirasi kemenangan bagi warga
Gorontalo. Pelaksanaan Tumbilotohe menjelang magrib hingga pagi hari
selama 3 malam terakhir sebelum menyambut kemenangan di hari Raya Idul
Fitri.
Di tengah nuansa kemenangan, langit gelap karena bulan tidak
menunjukkan sinarnya. Warga kemudian meyakini bahwa saat seperti itu
merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan eksistensi diri sebagai
manusia. Hal tersebut merupakan momentum paling indah untuk menyadarkan
diri sebagai fitrah ciptaan Allah SWT.
Menurut sejarah kegiatan
Tumbilotohe sudah berlangsung sejak abad XV sebagai penerangan diperoleh
dari damar, getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Damar
kemudian dibungkus dengan janur dan diletakkan di atas kayu. Seiring
dengan perkembangan zaman dan berkurangnya damar, penerangan dilakukan
dengan minyak kelapa (padamala) yang kemudian diganti dengan minyak
tanah. Setelah menggunakan damar, minyak kelapa, kemudian minyak tanah,
Tumbilotohe mengalami pergeseran.
Hampir sebagian warga mengganti
penerangan dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Akan tetapi,
sebagian warga masih mempertahankan nilai tradisional, yaitu memakai
lampu botol yang dipajang di depan rumah pada sebuah kerangka kayu atau
bambu.
Saat malam tiba, “ritual” Tumbilotohe dimulai. Kota tampak
terang benderang. Nyaris tidak ada sudut yang gelap. Keremangan malam
yang diterangi cahaya lampu-lampu bot Kota Gorontalo berubah semarak
karena lampu-lampu botol tidak hanya menerangi halaman rumah, tetapi
juga menerangi halaman kantor, masjid. Tak terkecuali, lahan kosong
petak sawah hingga lapangan sepak bola dipenuhi dengan cahaya lampu
botol. Masyarakat seolah menyatu dalam perasaan religius dan solidaritas
yang sama. Di lahan-lahan kosong nan luas, lampu-lampu botol itu
dibentuk gambar masjid, kitab suci Al ol di depan rumah- rumah penduduk
tampak mempesona
Tumbilotohe menjadi semacam magnet bagi warga
pendatang, terutama warga kota tetangga Manado, Palu, dan Makassar.
Banyak warga yang mengunjungi Gorontalo hanya untuk melihat Tumbilotohe.
Sepanjang perjalanan di daerah Gorontalo maka kita akan menyaksikan
Tumbilotohe dari berbagai ragam bentuk. “Sangat indah apabila kita
berjalan pada malam hari” itulah ungkapan pada kebanyakan orang yang
memanjakan ma Alikusu terdiri dari bambu kuning, dihiasi janur, pohon
pisang, tebu & lampu minyak yang diletakkan di pintu masuk rumah,
kantor, mesjid dan pintu gerbang perbatasan suatu daerah. Pada pintu
gerbang terdapat bentuk kubah mesjid yang menjadi simbol utama alikusu.
Warga menghiasi Alikusu dengan dedaunan yang didominasi janur kuning. Di
atas kerangka itu digantung sejumlah buah pisang sebagai lambang
kesejahteraan dan tebu lambang kemanisan, keramahan, dan kemuliaan hati
menyambut Idul Fitri.
2.3.10 Meriam Bambu (dalam bahasa Gorontalo Bunggo)
Bunggo
terbuat dari bambu pilihan yang setiap ruas dalamnya, kecuali ruas
paling ujung, dilubangi. Di dekat ruas paling ujung diberi lubang kecil
yang diisi minyak tanah. Lubang kecil itu sebagai tempat menyulut api
hingga bisa mengeluarkan bunyi letusan, tapi dalam bermain permainan ini
pemain harus berhati-hati karena dapat membuat pemain kebakaran alis
dan bulu mata.
2.3.11 Walima
Walima dalam bahasa Arab yang artinya
perayaan oleh masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang
berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada
setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga
diisi dengan bahan makanan pokok hasil kebun, ternak dll yang disiapkan
apa adanya.
Bagi masyarakat, Walima adalah hasil karya seni tinggi
yang dipersiapkan berbulan-bulan, memerlukan kesabaran yang tinggi untuk
mengerjakannya serta membutuhkan biaya yang lumayan besar.
Bagian-bagian dalam Walima:
a. Tolangga
Bamboo
Rotan
Kayu
Tolangga
terbuat dari kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun-tahun,
disimpan oleh masyarakat untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.
b. Kertas Warna
Bahan kertas warna digunakan untuk menghiasi bambu atau rotan pada Tolangga.
c. Bendera
Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah.
Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan di setiap sisi pada tengah walima.
Bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.
d. Kolombengi
Terbuat dari tepung, gula & telur, kue ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima.
e. Tusuk Kue
Terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran tolangga.
f.. Plastik
Plastik bening biasa untuk melindungi kue kolombengi setelah ditusuk.
g. Lilingo
Terbuat
dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya
adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut –
asap, kue basah, dll.
h. Makanan
Nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar & pisang.
2.3.12 Tunuhio
Dalam
bahasa Indonesia tunuhio adalah yang diikutkan atau bersamaan ini
adalah sejumlah uang sesuai kemampuan pemilik walima, jumlahnya biasanya
mengikuti ukuran besar kecilnya walima tetapi juga ini tidak harus
mengikuti ukuran walima, uang ini diserahkan pemilik walima kepada
panitia pada saat walima tiba di masjid, jumlah uang (Tunuhi) pada saat
maulid di Bongo bila ditotal bisa puluhan juta dan dibagikan kepada
pezikir yang datang dari luar daerah untuk mengganti transportasai dll.
2.3.13 Dikili
Dikili
dalam bahasa Gorontalo biasanya dikenal pada saat maulid, dalam bahasa
Indonesia lebih kurang artinya adalah Zikir, dalam peringatan maulid
Nabi para pezikir datang hampir mewakili wilayah Gorontalo jumlahnya
bisa menjadi 500 orang, biasanya masyarakat Gorontalo yang berdomisili
di wilayah itu dan hobi dengan Dikili. Dikili ini dilagukan dalam irama
yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah
sholat Isya dan berakhir sebelum sholat zuhur atau lebih kurang 15 jam.
Irama zikir yang khas ini membuat orang terkagum-kagum dan marasakan
akan kejadian maulid Nabi.
2.4 Keberadaan budaya Gorontalo dimasa sekarang
Dewasa
ini kita telah menghadapi masa globalisasi yang hubungan manusianya
tiada batas antar satu benua dengan banua lain. Keberadaan budaya
Gorontalo dimasa sekarang ini sudah mengalami banyak perubahan yang
sangat signifikan misalnya saja dalam hal upacara adat perkawinan. Dalam
upacara adat perkawinan adat Gorontalo dimasa sekarang ini banyak
sesi-sesi adat yang dilewati misalnya saja dalam upacara malam sebelum
diadakannya akad pernikahan, banyak anak muda sekarang yang tidak lagi
menggunakan tarian-tarian untuk memikat hati mempelai wanita karena
diakibatkan bebrapa faktor diantaranya sebagai berikut:
· Kurangnya pengetahuan akan adat budaya daerah Gorontalo
· Kurangnya pengetahuan akan tarian adat
· Kurangnya pengetahuan pembelajaran tentang adat budaya gorontalo
· Pergaulan kaum muda mudi yang sudah tergerus oleh jaman atau berprilaku hidup modern.
Faktor-faktor tersebut diatas yang membuat memudarnya kebudayaan Gorontalo.
Oleh
karena itu kita kaum muda harus bisa mempertahankan budaya Gorontalo
agar tetap lestari, karena budaya itulah yang menjadi warisan leluhur
nenek moyang suku Gorontalo.
Kota
Gorontalo dan wilayah sekitarnya dihuni oleh beragam suku, yaitu Suku
Gorontalo, Suku Bugis, Suku Polahi, Suku Jawa, Suku Makassar, Suku Bali,
Suku Minahasa, dan Tionghoa. Suku asli Gorontalo memiliki warisan
kebudayaan. Bebeapa di antaranya adalah rumah adat yang berarsitektur
indah. Setiap tahun, beragam suku di Gorontalo menampilkan warna-warni
kebudayaan mereka dalam Festival Otanaha.
Kebudayaan asli Gorontalo
sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam. Orang Gorontalo mengawinkan
unsur adat dan agama secara cantik. Lihatlah tradisi tumbilotohe, yaitu
tradisi membuat Kota Gorontalo gemerlap dengan lentera setiap malam
lebaran. Dalam pesta perkawinan, masyarakat Gorontalo menyanyi dan
menari dengan musik rebana dan syair doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar