my inspirasi :)
cerita gadis kecil untuk menggapai cita citanya
izinkanlah di sini kuceritakan sebuah kisah tentang seorang gadis
kecil. Gadis kecil yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang
berlimpah dalam kondisi keterbatasan yang membuatnya memiliki semangat
untuk berbuat lebih dan berbuat banyak, sebagai bukti bahwa keterbatasan
yang dimilikinya tak menjadi penghalang dalam upayanya mengejar
cita-cita

Gadis kecil ini hidup di lingkungan desa dengan kualitas udara yang
masih sangat bersih. Dibesarkan di bawah kicauan burung yang mengiringi
riang kehidupannya, tumbuh di bawah langit biru yang berkenan menaungi
wilayahnya yang subur, sehingga tak heran pertanian merupakan mata
pencaharian utama di tempatnya.
Dengan kondisi yang serba terbatas, dia berhasil mengenyam pendidikan
bahkan hingga SLTA dengan prestasi yang cukup terbilang bagus. Ada
dorongan internal yang menggebu dalam dirinya dengan segala yang hanya
dia punya, menggebrak dan membuktikan kepada dunia bahwa anak petani
yang kurang berada seperti dirinya mampu mengenyam pendidikan yang bisa
meningkatkan kualitas kehidupan dirinya dan keluarganya. Ada kekuatan
yang sangat besar dalam dirinya hingga dia bisa menaklukan semua halang
rintang yang menghalanginya dari cita-citanya.
Namun sayang, ada satu kesalahan fatal yang dilakukannya yang
mempengaruhi kehidupannya selanjutnya, yang membuatnya kehilangan
kekuatan yang sampai tahap SLTA masih dimilikinya. Dia salah
mendefinisikan cita-citanya. Apa yang salah?? Salahkah dia ingin sekedar
menjadi guru? Orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya? Mengenyam
pendidikan tinggi –sebutlah Itb?? Nampaknya mungkin tidak ada yang
salah, namun pada kenyataannya, kesalahannya mendefinisikan cita-cita
pada tahap menjadi guru, berguna bagi bangsa dan Negara, dan mengenyam
pendidikan yang tinggi adalah sesuatu yang abstrak dan tak menyimpan
kekuatan yang membuatnya bahkan bisa menjadi lebih dari sekedar itu.
Jika ditelusuri sebenarnya sih agak wajar
karena gadis desa yang jauh dari hiruk pikuk obsesi tinggi yang layaknya
ditemukan diperkotaan sama sekali tak mengisi kepalanya dengan obsesi
obsesi yang jauh lebih tinggi. Meskipun disadarinya masyarakat di
sekitarnya adalah golongan menengah ke bawah, sejauh dia melihat bahwa
mereka bahagia, maka tidak menjadi satu masalah berarti yang harus
dicari solusinya. Hanya perkara bahwa dia adalah salah satu dari
golongan menengah ke bawah itu yang membuat dia terus maju dan melangkah
mencapai perguruan terbaik yang diimpikannya, ITB. Soal nilai-nilai
Islam, yang dia tahu hanya sedikit, terlalu hanya sedikit, meskipun
Alhamdulillah keluarganya meskipun tak berada, memiliki kesadaran yang
sangat tinggi untuk melaksanakan kewajiban seperti shalat dan kewajiban
ibadah mahdhah lainnya. Namun kamu tahu?? Tentu ini saja sangat tidak
cukup. Mana nilai2 ukhrawi yang membuatnya mau mengejar surga?? Konsep
yang selama itu terbenam di kepalanya adalah bahwa melaksanakan
kewajiban ibadah saja bisa membuat masuk surge. That’s it.
Jadi, ketika waktu terdekatnya untuk mencapai cita-citanya itu
kemudian sampai, maka kekuatan yang dimilikinya menjadi semakin berlipat
dan semakin berlipat. Sedemikian besar sedemikain besar hingga dia
mampu mampu menelan berbagai buku soal. Bahkan buku merah terbitan
epsilon grup bandung yang berisikan soal soal UM, UMPTN, SIPENMARU, SPMB
dari tahun 1972 bahkan sampai 2003 telah habis dibantainya. Jangan
Tanya soal rumus kaidah loncat trigonometri, jurus dodet limit tak
hingga, atau bahkan siklus hidup cacing pita, cacing hati, bahkan
plasmodium bisa dengan baik dihapalnya bahkan hingga kini setelah 7
tahun berlalu.
Dalam penantian hasil, peningkatan keimanannya luar biasa, dan di
sanalah sebuah titik balik kesadaran beragama yang berhasil ditemukannya
sendiri dengan hidayah Allah. Di sanalah pertama kali dalam hidupnya
merasa sedemikian dekat dengan Al Quran, meskipun sehari-harinya, dia
terbiasa mengaji. Di sanalah pertama kali disadarinya bahwa Al Quran
yang dibacanya memiliki makna yang sedemikian luar biasanya yang
membuatnya tergugah untuk mengetahui lebih dalam, sehingga terucap
harapan kepada Rabb-nya. “ya Allah izinkan aku masuk ITB, karena bisa
jadi dengan kombinasi keilmuan yang mendalam dipadu dengan pemahaman
Islam yang kuat, maka aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Izinkan
aku hijrah ke sana ya Rabb..”. begitulah doanya, apalagi ketika
kesempatan untuk mengunjungi masjid Salman ITB berpadu dengan hati
kecilnya, jadilah ia semakin bersemangat untuk bisa masuk menjadi bagian
dari orang-orang di masjid itu.
Saying sungguh disayang. Cita-cita nya tercapai sudah untuk masuk ITB
dan menjadi bagian dari masjid Salman. Sesudah itu? Dia kemuadian harus
mendefinisikan impian barunya. Reorientasi kembali dan menggali kembali
kekuatan dalam dirinya yang membuatnya bisa mencapai cita-cita barunya.
Salah?? Tidak salah? Ada berbagai factor yang menyebabkan hal itu
terjadi, dan itu tak bisa dihindari, meskipun jika dia bisa lebih
mencari, sebenarnya dulu dia bisa saja mendefinisikan cita-cita yang tak
sekedar. Terwujud dan sudah, sungguh cita-cita yang sangat pendek.
Kehidupan barunya yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya
sebelumnya. Jauh dari orang tua, hidup sendiri, namun jauh lebih mudah
dari segi pemenuhan kebutuhan. Apa pasal?? Pasalnya adalah Allah
berkenan memberikannya kemudahan kemudahan yang bahkan tidak akan bisa
dia bayar. Allah memberikannya beasiswa dari alumni ITB, dan untuk
tempat tinggal, Allah memberikannya tempat tinggal terbaik, asrama putri
salman ITB.
Dinamika kehidupannya yang baru terkadang membuat kepalanya ricuh.
Terlalu ricuh bahkan, dengan reorientasi cita-cita baru yang diiringi
oleh berbagai kemudahan yang Allah berikan sekaligus rutinitas aktifitas
yang baru dan berbeda dengan kadar yang berbeda, dan ditambah dengan
pertambahan pemahaman keislaman yang baru diperolehnya. Jujur, itu
membuatnya sedikit tak terkendali.
Perubahan ekstrim?? Hmmm.. dari segi penampilan sih tidak, karena
dari dulunya sudah menyukai baju besar kedombrangan yang tidak
memperlihatkan lekuk tubuh, Cuma ya ditambah memperlebar ukuran kerudung
plus rok, manset, dan kaos kaki. Namun soal sikap! Ini yang mantap.
Kehidupan di asrama yang menuntut banyak hal, soal kebersihan,
keterampilan memasak, kerapihan, jadwal yang padat, ditambah dengan
pemahaman yang diperolehnya di majelis ta’lim salman tentang jaga hijab,
jaga pergaulan.. hmm… membuatnya agak ekstrim di awal. Ekstrim banget
kali ya sampai dia tidak bisa masuk sama sekali ke dalam pergaulan
teman-temannya di prodi teknik kimia. Heu…
Jadi masa kuliahnya itulah yang menjadi masa pencarian jati dirinya.
Cita-cita baru pun muncul dan jauuuuh lebih baik konsepnya dari ketika
dulu di smu yang jangkanya benar-benar pendek, namun,… ntah kenapa
kekuatan untuk mencapai cita-cita itu yang tidak keluar secara optimal
dibandingkan dengan ketika dia SMU dahulu dan sangat kesulitan dengan
kondisi ekonominya.
Hal ini dia sadari, dan bahkan telah dia diskusikan dalam sebuah
forum usrah bersama walinya di Salman yaitu Mas Hermawan KD, yang saat
itu menjabat sebagai ketua YPM Salman. Dia bertanya, “apakah kemudahan
yang saya terima ini membuat saya justru tenggelam dalam kelalaian?
Karena saya merasa saya sebenarnya bisa memilki semangat yang lebih baik
dari ini? Bagaimana seharusnya.” Mas Her menjawab saat itu, “kita tak
bisa menyalahkan keadaan, perkenan Allah-lah kita diberi kemudahan atau
kesulitan. Dan bukan di sana masalah utamanya, ketika kita merasa justru
hidup terasa mudah, bukankah seharusnya rasa syukur yang mendominasi
jiwa kita? Sehingga kita terdorong dan memiliki semangat untuk
memanfaatkan karunia kemudahan tersebut dengan sebaik-baiknya?”. Jawaban
yang membuat dia terhenyak namun dapat dia pahami. Artinya dia harus
menemukan arti dan nilai2 dari konsep sabar dan syukur.
Namun, 5 tahun yang dia jalani di Salman belum memunculkan semangat
yang hilang itu. Dia masih merasa semangatnya yang sebenarnya kata orang
sudah menyala-nyala, di benaknya masih terasa kurang, masih terasa
belum optimal. Memang ada semangat lain yang muncul dalam dirinya, ada
semnangat baru yang jenisnya berbeda, seiring dengan bertambahnya
pemahaman dan pengertiannya tntang kehidupan. Semangat semangat lain
tumbuh akibat beribu alasan yang tidak dia temukan di kampung halamannya
yang telah mengisi bagian bagian syarafnya. Dan dia pun kini harus
hijrah kembali ke daerah lain, Jakarta, ibu kota, yang kompleksitasnya
jauuuuuuuh berkali lipat dari Bandung apalagi Cianjur.
Sampai saat ini, gadis kecil yang sudah beranjak semakin dewasa
semakin dewasa, atau juga semakin tua ini masih berusaha mencari
semangat itu, tanpa mengenyampingkan pertumbuhan semangat yang lainya.
Karena dirasakannya, kehadiran jenis semangat yang hilang itu sangat
sangat dan sangat dibutuhkannya untuk bisa mencapai cita-citanya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar